“Pada akhir semester, poin tersebut akan dihitung dan ditukar dengan hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada siswa,” terangnya. Cara ini dianggap efektif untuk memotivasi siswa agar tetap aktif selama proses pembelajaran.
Sementara itu, Komite SDN Sadagori 1 Kota Cirebon, Deden Iman Cahyadi, menilai perubahan sistem sekolah lima hari membawa dampak yang cukup signifikan.
Menurutnya, banyak orang tua yang menyambut positif kebijakan tersebut. Ia menilai sistem lima hari sekolah membuat waktu antarjemput anak menjadi lebih teratur.
Baca Juga:Tambah Anggaran Rp24,8 Triliun, Usulan Menag untuk Madrasah dan Sekolah KeagamaanPolemik Pembongkaran Jembatan Rel Kalibaru, KAI Koordinasi Internal, Komunikasi dengan Disbudpar Sudah Jalan
Deden juga mengamati bahwa siswa di sekolah tersebut memang memiliki kedekatan emosional dengan lingkungan sekolah. Banyak siswa yang betah berada di sekolah meskipun jam belajar sudah selesai. Selain itu, sistem ini dinilai memberi ruang bagi orang tua untuk tetap terlibat dalam aktivitas anak.
“Misalnya dengan menjemput anak saat waktu makan siang atau mengantar anak ke kegiatan lain setelah pulang sekolah,” jelas Deden.
Menurut Deden, sebagian orang tua bahkan merasa lebih memiliki waktu pribadi karena jadwal anak menjadi lebih teratur.
Ia juga menyebut bahwa gagasan penerapan lima hari sekolah sebenarnya sudah lama disampaikan kepada pihak dinas pendidikan.
Saat ini, menurutnya, seluruh unsur sekolah mendukung implementasi kebijakan tersebut.
Sebagai bagian dari kesepakatan bersama, sekolah memastikan tidak ada lagi kegiatan ekstrakurikuler yang dijadwalkan pada hari Sabtu.
Langkah itu diambil agar konsep lima hari sekolah benar-benar berjalan secara konsisten. Dengan demikian, hari Sabtu dapat digunakan untuk kegiatan keluarga atau aktivitas lain di luar sekolah. (*)
