Menurut Rusnadi, keberadaan sumur bor dan MCK juga memiliki manfaat ganda karena lokasinya berdekatan dengan kawasan wisata desa. Fasilitas tersebut dapat digunakan masyarakat setempat sekaligus melayani pengunjung yang datang berwisata.
“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi warga kami, khususnya di wilayah RW 02. Kami mengucapkan terima kasih dan berharap fasilitas ini dijaga, dipelihara, serta dirawat dengan baik,” ujarnya.
Rusnadi menjelaskan, kawasan wisata Cikomboy di Desa Matangaji telah berkembang selama hampir dua tahun. Destinasi tersebut menawarkan sejumlah potensi, mulai dari kolam renang, bumi perkemahan, hamparan persawahan, tempat kuliner, kedai kopi, hingga ekowisata embung.
Baca Juga:Tekan Peredaran Narkoba, Polresta Cirebon Gencarkan Operasi Antik LodayaSDN Bima Kota Cirebon Raih Regu Berprestasi Cukup di LT-II Pramuka Kwarran Kesambi 2026
Desa Matangaji juga memiliki rencana pengembangan destinasi lain, termasuk wisata religi dan agrowisata. Pada 2025, desa tersebut meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik tingkat Kabupaten Cirebon.
Sementara pada 2026, Matangaji menjadi perwakilan Kabupaten Cirebon dalam lomba desa wisata tingkat Provinsi Jawa Barat.Menurut Rusnadi, dukungan terhadap fasilitas dasar menjadi salah satu kebutuhan dalam menunjang pengembangan kawasan tersebut. Pemerintah desa berharap pembangunan fasilitas publik dapat terus berlanjut agar masyarakat dan pengunjung memperoleh manfaat yang lebih luas.
Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dari upaya PNM dalam mendampingi nasabah. Wina menyebut, Desa Matangaji memiliki pelaku UMKM yang memproduksi berbagai produk, di antaranya makanan ringan dan telur asin.
Potensi tersebut dinilai masih dapat dikembangkan melalui pendampingan usaha. PNM membuka peluang untuk ikut mendorong penguatan kapasitas pelaku UMKM agar kegiatan ekonomi masyarakat dapat tumbuh seiring dengan perkembangan wisata desa.
Manfaat kehadiran PNM juga dirasakan langsung oleh nasabah program Mekaar, salah satunya Utimah, pedagang sembako di Desa Matangaji. Ia mengaku telah memanfaatkan layanan pembiayaan PNM untuk menunjang modal usahanya.
Utimah mengatakan, usahanya yang menjual kebutuhan sehari-hari, seperti beras, sayuran, gas, dan kebutuhan lainnya, terus dijalankan dengan dukungan pembiayaan tersebut. Ia mengaku nilai pinjaman yang diterimanya meningkat dari Rp2 juta pada awal bergabung menjadi Rp10 juta.
Menurutnya, layanan PNM Mekaar membantu dirinya memperoleh tambahan modal usaha dengan persyaratan yang relatif mudah dan tanpa agunan. Ia berharap pendampingan dan layanan PNM dapat terus berkembang sehingga semakin banyak pelaku usaha kecil yang terbantu.
