Anak Doyan Junk Food, Hati-hati Ada Bahaya yang Mengintai!.

RADARCIREBON.ID- Junk food atau makanan siap saji memang lebih praktis. Junk food merupkan makanan dan minuman dengan nilai gizi rendah dan tinggi lemak, gula, dan garam. Beberapa makanan cepat saji bisa saja menyehatkan, misalnya salad, sushi, dan sandwich.

Bahkan junk food menjadi salah satu makanan yang paling diminati di kalangan anak muda juga anak-anak, apakah anda salah satunya?

Junk food sebagai suatu istilah informal yang diterapkan untuk beberapa makanan yang kemudian dianggap memiliki nilai gizi sedikit atau bahkan sama sekali tidak ada gizinya.

Baca juga: Lulusan SMA SMK Bisa Kerja di BUMN. Simak Tipsnya!

Namun, sebagian besar dari jenis junk food dapat berbahaya untuk kesehatan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, bahwa junk food atau makanan yang memiliki kalori, lemak dan gula yang tinggi menjadi masalah bagi keluarga Indonesia maupun global dalam memperbaiki asupan gizi anak.

“Masalah junk food ini adalah masalah global. Jadi, kalau kita lihat ke swalayan, itu makanan cemilan yang dikonsumsi oleh kita dan anak-anak kita betul-betul refine carbs. Tinggi gula dan tinggi lemak trans yang sangat inflamatif,” kata Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso dalam Media Brief Jajanan Anak dan Kesehatan Pencernaan yang dilansir Antara.

Baca juga: Air Putih Dapat Tangkal Penyakit Kronis dan Tunda Penuaan

Piprim menyampaikan hadirnya junk food yang semakin marak saat ini membuat banyak anak di usia remaja, sudah terkena obesitas dan diabetes mellitus tipe 2. Meski tak disebutkan jumlahnya, ia menyatakan jumlah orang yang terkena penyakit tersebut terus meningkat setiap harinya.

Bahkan, sudah banyak anak remaja yang menderita hipertensi. Padahal, hipertensi merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita saat seseorang memasuki masa penuaan (ageing). Bisa juga karena kurangnya olahraga ataupun pola makan yang tidak baik.

Menurut Piprim, junk food tidak bisa lagi ditoleransi, karena industri akan selalu berinovasi. Oleh karenanya, makanan alami sebisa mungkin harus mulai kembali digalakkan di tingkat rumah tangga, karena kontrol utama dalam pemberian gizi anak berada pada orang tua di rumah.

Komentar