Hilangnya Identitas Pecinan dan Konflik Cirebon-Tionghoa

Catatan: Ade Gustiana

Bahtera toleransi pendatang Tionghoa dan warga lokal Cirebon sempat memanas. Sekitar 60-an tahun silam. Identitas kawasan Pecinan di Lemahwungkuk yang sekarang orang tahu itu telah banyak berubah.

Menutur naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa di Cirebon ada sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri. Hubungan keraton-keraton Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terjalin lama.

Bahkan, keberadaan warga Tionghoa di Cirebon sudah ada sejak sekitar tahun 1415 M sebelum kerajaan Cirebon berdiri pada sekitar tahun 1500 M.

Humas PSMTI Cirebon, Halim Eka Wardhana bercerita, sebelum ada Kasultanan Cirebon, Cheng Ho singgah di Pelabuhan Muara Jati Cirebon. Karena terkendala armada kapal yang ditumpangi. Mereka mendirikan mercusuar dalam memperbaiki kapal. Serta mencari perbekalan, terutama air bersih.

BACA JUGA: Pecinan Jamblang yang Kian Ditinggalkan Penduduk Asli Tionghoa

Kedatangan Laksamana Cheng Ho bersama Ma Huan, penulis dan penerjemahnya yang beragama Islam, membawa 63 perahu dengan jumlah pasukan lebih dari 23.000 orang.

Sebagian dari anak buah kapal Cheng Ho itu banyak yang muslim. Mereka tinggal di daerah Srandil atau sekitar Gunung Jati, Kabupaten Cirebon. Selain dari laut, kata Halim, warga Tionghoa dari daratan mulai berdatangan. Mereka saat itu hidup secara berkelompok.

Menurut buku Prof Dr Slamet Muljana, Halim bilang, salah satu keturunan Tionghoa atau Putri Ong Tien dinikahkan dengan Sunan Gunung Jati yang saat itu telah berusia sepuh.

“Jadi bukan putri yang didatangkan dari daratan China, tapi dari komunitas muslim Tionghoa yang ada di Cirebon,” jelas pemilik nama Tionghoa Djong Tjuan Liem itu, belum lama ini.

BACA JUGA: Melihat Sejarah dari Guratan Karya Pewaris Batik Peranakan

Pendatang dari Tongkok semakin masif di tahun 1.800-an. Kakek Halim sendiri datang tahun 1.883. Ia datang dari daratan Tiongkok di usia 21 tahun. Di mana saat itu telah ada pemerintahan Kota Cirebon. Datang ke Nusantara untuk berdagang.

Di masa itu, terang Halim, telah terbentuk populasi masyarakat Tionghoa. Jalan-jalan tertentu hanya dihuni kelompok keturunan Tionghoa pendatang. Sampai dikenal dengan kawasan Pecinan. Hingga sekarang.

Komentar