Pengusaha Genteng dan Bata Merah Masih Bertahan di Tengah Kepungan Genteng Modern dan Hebel

MAJALENGKA.RADARCIREBON.ID -Sejumlah industri pembuatan genteng dan bata merah di Kabupaten Majalengka masih bertahan, di tengah kepungan industri genteng modern dan hebel.

Hal itu bisa dilihat dari sejumlah industri genteng di wilayah Sukaraja, Burujul dan Sukaraja Kecamatan Jatiwangi. Mereka masih berdiri meski dengan keterbatasan dan ketatnya persaingan.

Hal serupa juga dirasakan para pengusaha bata merah di Desa Tegalaren Kecamatan Jatitujuh, Panyingkiran, Sindangwangi dan lainya yang masih bertahan.

Wawan (45) salah seorang pengusaha genteng asal Sukaraja mengakui, jika saat ini industri genteng tanah liat memang mulai sedikit menurun, seiring dengan semakin banyaknya jenis genteng modern berbahan logam baja ringan.

BACA JUGA: Viral! Kerusakan Jalan di Majalengka Ramai Dibicarakan Warga di Media Sosial

Selain itu kata dia, tingginya curah hujan juga menjadi kendala tersendiri bagi para pengusaha genteng dan bata merah di Kabupaten Majalengka.

Mereka terpaksa harus mengurangi produksi akibat kesulitan dalam proses pengeringan bahan baku setengah jadi.

“Saat ini memang saingan kita sangat banyak, terutama dengan kehadiran genteng berbahan baja ringan maupun semen yang sudah mulai banyak digunakan masyarakat. Keberadaan genteng jenis logam memang sangat mempengaruhi penjualan genteng tanah liat,” ucapnya Rabu (25/1) kemarin.

Hal senada juga diungkapkan Bono pengusaha bata merah asal Sindangwangi yang mengaku produksinya menurun drastis semenjak beredarnya bata jenis hebel.

BACA JUGA: Jalan Majalengka-Cikijing Banyak Lubang, Minta Segera Diperbaiki Sebelum Lebaran Idul Fitri  

Selain itu kata dia, curah hujan yang tinggi juga sangat berpengaruh terhadap produksi yang mengalami penurunan hingga 30%.

“Jika curah hujan tinggi seperti ini, maka sangat mempengaruhi hasil produksi yang bisa berkurang hingga 30% dari biasanya. Sebab proses pengeringan merupakan hal yang paling penting, sehingga kami tidak bisa mencetak dan membakar bata dalam jumlah besar,” terangnya.

Muroji, pengusaha bata merah asal Buah Kapas menambahkan, jika akibat curah hujan yang tinggi secara praktis produksi bata merah terhent.

Pasalnya dari mulai proses pembuatan bahan baku, pencetakan hingga pengeringan sangat membutuhkan terik matahari.

Komentar