UGJ Cirebon Punya Guru Besar, Ini Dia Profilnya

CIREBON, RadarCirebon.id – Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon (UGJ) ada di bawah naungan YPSGJ kembali memiliki guru besar. Tidak tanggung-tanggung, guru besar tersebut di bidang Ilmu Agribisnis.

Rencananya hari ini, Jumat (12/1/2023) mengukuhkan guru besar, Prof Achmad Faqih. Pengukuhan tersebut dihadiri langsung Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati (YPSGJ) Dadang Sukandar Kasidin, serta Rektor UGJ Prof Dr H Mukarto Siswoyo MSi.

Mukarto mengucapkan selamat dan bangga atas pencapaian yang didapatkan oleh Achmad Faqih.

“Kami sepakat  bahwa capaian ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan sebuah proses perjuangan yang panjang dan penuh rintangan untuk meraihnya,” kata Mukarto kemarin.

Sebagai sebuah tradisi ilmiah di kampus dan pembuktian kepada publik akan kapasitas sebagai seorang profesor, Achmad Faqih akan memberikan orasi ilmiah tentang “Model Pemberdayaan Kelompok Tani Tanaman Pangan Pesisir Pantai”.

BACA JUGA: Jembatan Gantung yang Miring Karena Banjir sudah Bisa Dilalui, Tapi hanya untuk Ini Saja….

Dalam orasi ilmiahnya, Faqih membahas tentang pembangunan pertanian ke depan. Di harapkan, dapat memberi kontribusi yang lebih besar dalam rangka mengurangi kesenjangan dan memperluas kesempatan kerja.

Serta mampu memanfaatkan semua peluang ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari globalisasi dan liberalisasi perkonomian dunia.

Lebih lanjut, Faqih mengatakan, guna mewujudkan harapan tersebut, diperlukan sumber daya manusia (petani dan pelaku usaha pertanin) yang berkualitas dan andal dengan ciri mandiri, profesional, berjiwa wirausaha, mempunyai dedikasi, etos kerja, disiplin dan moral yang tinggi, serta berwawasan global.

Sehingga, petani dan pelaku usaha pertanian mampu membangun usaha tani yang berdaya saing tinggi.

“Kegiatan pembinaan kelompok bukan merupakan satu-satunya penyebab terjadinya perubahan-perubahan yang terjadi,” kata Faqih.

BACA JUGA: Hasil Persib vs Persija Skor 1-0, Harusnya Persib Ada di Peringkat Kedua Klasemen, Tapi…

Faqih menjelaskan, Lionberger dan Gwin (2019) dengan tegas menyatakan bahwa kegiatan pembinaan kelompok salah satu di antara sekian banyak variabel yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku kelompok dan perubahan-perubahan yang menjadi tujuan akhir dari pembinaan kelompok.

Artinya, pembinaan kelompok yang baik tidak selalu menjamin tercapainya tujuan pembangunan. Kegagalan pembangunan pertanian tidak selalu hanya disebabkan karena buruknya pelaksanaan pembinaan kelompok.

Komentar