RADARCIREBON.ID – Sebelum Kabupaten Majalengka dikenal seperti sekarang ini, wilayah Rajagaluh sudah terlebih dulu hidup sebagai tanah tua orang Sunda.
Ketika itu, di lereng Gunung Ciremai, lahirlah permukiman-permukiman awal yang bergantung kepada air dan tanah. Salah satunya adalah Desa Payung, yang masuk wilayah Kecamatan Rajagaluh sekarang.
Di desa ini ada sebuah situ yang tidak dibangun menggunakan teknologi zaman modern. Tidak pula dibuat untuk tujuan pariwisata. Warga menyebutnya Situ Janawi. Air situ tersebut berasal dari pegunungan. Mengalir menetap lalu dijaga lintas generasi.
Baca Juga:TransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans CirebonKDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir Aceh
Menurut akun Babad Nusa, dalam tradisi Sunda lama, air bukan sekadar sumber hidup tapi juga penanda wilayah. Penjaga keseimbangan dan saksi lahirnya peradaban.
Tak heran jika di Rajagaluh, wilayah yang dikenal sebagai kawasan tua, sejarah tidak selalu ditulis di prasasti. Melainkan disimpan di tempat-tempat seperti ini.
Akun itu melukiskan, Situ Janawi bukan hanya air yang tenang. Situ itu adalah jejak di mana orang Sunda memilih bertahan, menetap dan mewariskan tanahnya. Tanpa harus menaklukkannya.
“Karena di Nusantara, sejarah tidak selalu berbunyi keras, kadang dia berdiam di sebuah situ, menunggu untuk kembali diingat,” ungkapnya.
Sekarang Situ Janawi yang terkenal keindahan alamnya, sudah menjadi tujuan wisata. Di situ ini menyuguhkan pemandangan air yang tenang dengan hamparan vegetasi hijau di sekelilingnya.
Dilihat dari namanya, Janawi berasal dari gabungan kata jannah dan vhyi. Kata vhyi memiliki sebutan lain, yakni vaya atau vahayya, yang merujuk pada Gangga, dewi kehidupan. Kata jannah memiliki arti surga dalam tradisi Islam. Yang merupakan tempat terindah.
Dimungkinkan, Sutu Janawi dulu merupakan kawasan privat yang bersifat suci. Tempat ini sangat mungkin memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Indraprasta.
Baca Juga:KDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – JakartaPasca Tawuran Konten, Pemuda Desa Purwawinangun – Muara Mediasi di Polsek Kapetakan, Sepakat Damai
Kerajaan Rajagaluh yang dipimpin Prabu Cakraningrat merupakan salah satu keturunan dari kerajaan tersebut. Kerajaan itu menganut agama Budha Mahayana aliran Sarvastivada.
Pada tahun 1528 Masehi, pasukan Kasultanan Cirebon menyerang Kerajaan Rajagaluh. Pangeran Dipati Kuningan atau Adipati Awangga memimpin pasukan Kesultanan Cirebon tersebut.
Pasukan itu mendapat bantuan dari pasukan inti Kesultanan Cirebon dan 700 prajurit Kasultanan Demak. Ketika itu pasukan tersebut berada di Cirebon untuk keperluan pengawalan Sultan Demak.
