Lalu baru naik pesawat, turun di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Lanjut naik LRT ke pusat Kota Palembang.
Saya juga pernah naik transportasi umum dari Cirebon ke Medan dengan rute yang hampir mirip seperti saya sebutkan di atas. Cirebon, Gambir, Dukuh Atas, KA Bandara, lalu naik pesawat dari Soetta. Turun di Bandara Kualanamu, lalu lanjut menggunakan kereta bandara menuju Kota Medan.
Bagi saya; murah, mudah, aman, terhubung! Itulah kata kunci sesungguhnya.
Jadi, berlandaskan pengalaman itu, boleh lah saya sedikit berbagai cerita mengenai koneksi antara moda transportasi dan bagaimana BRT Cirebon seharusnya bisa dikembangkan. Semoga menjadi sumbangsih pemikiran.
Baca Juga:KDM Siap Jemput 45 Warga Jabar yang Terjebak Banjir AcehKDM – PT KAI Jalin Kerjasama, Bakal Ada Kereta Api Tani Mukti Rute Cirebon – Jakarta
TransJakarta sebagai Benchmark BRT Trans Cirebon
Keberhasilan transportasi publik tidak ditentukan oleh jumlah armada atau nama program, melainkan oleh paradigma kebijakan yang melandasinya. Dalam hal ini, TransJakarta layak dijadikan benchmark bagi pengembangan BRT Trans Cirebon.
Perbandingan keduanya menunjukkan perbedaan mendasar: TransJakarta dibangun sebagai layanan publik bersubsidi.
TransJakarta beroperasi sejak 2004 dengan tujuan utama mengurangi kemacetan dan ketergantungan kendaraan pribadi.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta secara sadar menempatkannya bukan sebagai bisnis, melainkan instrumen pelayanan publik. Konsekuensinya, Pemprov DKI mengalokasikan subsidi APBD sekitar Rp3–5 triliun per tahun untuk menutup biaya operasional yang tidak mungkin ditanggung oleh tarif penumpang semata.
Biaya riil perjalanan diperkirakan mencapai Rp10.000–15.000 per penumpang, sementara tarif dijaga tetap Rp3.500.
Subsidi tersebut memungkinkan TransJakarta menyediakan layanan yang konsisten, tarif terjangkau, serta sistem pembayaran nontunai yang terintegrasi dengan moda lain seperti MRT, LRT, KRL, dan angkutan pengumpan. Integrasi inilah yang membuat transportasi publik menjadi praktis dan rasional bagi warga Jakarta.
Sebaliknya, BRT Trans Cirebon gagal memenuhi ekspektasi publik sebagai transportasi masal, bukan karena masyarakat enggan naik bus, melainkan karena sistemnya tidak terintegrasi.
Baca Juga:Pasca Tawuran Konten, Pemuda Desa Purwawinangun – Muara Mediasi di Polsek Kapetakan, Sepakat DamaiLolos dari Hukuman, Prabowo Rehabilitasi 3 Mantan Direksi ASDP Termasuk Ira Puspadewi
Apakah Anda bisa naik BRT dari Jl Perjuangan ke Pasar Kanoman? Berapa kali singgah? Berapa kali ganti moda transportasi? Berapa ongkos yang dikeluarkan? Lebih baik naik transportasi daring kan?
BRT berdiri sendiri tanpa keterhubungan fungsional dengan angkot yang selama ini menjadi moda utama warga. Akibatnya, banyak kawasan permukiman tidak terjangkau, penumpang harus membayar dua kali, dan perjalanan menjadi tidak efisien.
