Banjir di Wilayah Argasunya-Kalijaga, Diduga Akibat Kelalaian Pintu Air dan Lemahnya Infrastruktur Sungai

Banjir di Wilayah Argasunya-Kalijaga
TINJAU LANGSUNG: Wakil Walikota Cirebon Siti Farida Rosmawati (kiri) meninjau lokasi dan warga terdampak banjir di Kecamatan Harjamukti, kemarin. Foto: Cecep Nacepi/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Banjir melanda wilayah Kelurahan Argasunya dan Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, pada Senin (5/1/2026). Peristiwa ini mengejutkan warga dan pemerintah setempat, mengingat sebagian wilayah Argasunya merupakan kawasan dataran tinggi.

Hasil penelusuran di lapangan mengindikasikan banjir dipicu keterlambatan pembukaan pintu air Kedung Krisik serta lemahnya infrastruktur sungai, mulai dari tidak adanya tanggul hingga ambruknya tembok penahan tanah (TPT).

Lurah Argasunya, Mardiansyah, turun langsung ke lokasi banjir terparah di perbatasan Argasunya–Kalijaga. Berdasarkan laporan warga dan hasil pengecekan langsung di lapangan, salah satu penyebab utama banjir adalah pintu air Kedung Krisik yang terlambat dibuka saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Baca Juga:Walikota dan Ratusan ASN akan Pindah dari Gedung Setda ke Grage Mall CitySawit Gaib di Cigobang Dicabut Lebih dari 300 Batang dengan Usia Sekitar 4 Bulan

“Wilayah ini dataran tinggi, jadi kami juga kaget bisa terjadi banjir. Setelah dicek, ternyata pintu airnya telat dibuka. Kalau dibuka lebih awal, insya Allah air tidak akan sampai meluap ke wilayah sini,” ujarnya, Selasa (6/1/2026).

Ia menyayangkan kelalaian tersebut dan berharap pengelolaan pintu air lebih sigap, khususnya saat musim hujan. Selain itu, Argasunya juga menghadapi persoalan serius lainnya, yakni belum adanya tanggul atau penyangga sungai di sepanjang bantaran kali, mulai dari RW 11 Benda Kerep hingga wilayah Kedung Krisik. Kondisi ini dinilai sangat rawan longsor dan menjadi salah satu faktor luapan air ke permukiman warga.

Menurut Mardiansyah, pihak kelurahan telah berulang kali mengajukan permohonan penanganan ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sejak akhir 2023. Namun hingga kini, penanganan yang dilakukan baru sebatas pemasangan bronjong di sebagian wilayah RW 11. “PR utama kami itu Argasunya tidak ada tanggul atau penyangga kali. Jadi rawan longsor dan berpotensi banjir. Kami sudah mengajukan, tapi sampai sekarang belum maksimal,” tambahnya.

Hal senada disampaikan warga terdampak, Koirudin. Ia menilai banjir terjadi akibat kelalaian beberapa pihak yang tidak segera membuka pintu air. “Pintu airnya tidak segera dibuka, akhirnya air sungai meluap dan masuk ke sini lewat jalan,” katanya.

Pasca banjir, Wakil Wali Kota Cirebon Siti Farida Rosmawati meninjau langsung tiga titik terdampak banjir di Kelurahan Kalijaga dan Argasunya, Selasa (6/1/2026), termasuk MI Darul Ulum Kalijaga. Ia mendapati lumpur menggenangi rumah warga, sekolah, serta fasilitas umum. Sejumlah dokumen, buku, dan perlengkapan belajar ikut terendam. Dari keterangan warga yang dihimpun, Farida menyebut penyebab banjir serupa, yakni keterlambatan pembukaan pintu air Kedung Krisik yang berat sehingga lambat dioperasikan. “Air keburu meluap ke daerah rendah. Untungnya cepat surut, tapi tetap disayangkan karena menimbulkan dampak dan korban,” ujar Farida di lokasi banjir.

0 Komentar