INDRAMAYU – Cuaca buruk yang melanda perairan Laut Jawa selama sekitar satu bulan terakhir, ditandai angin kencang dan gelombang tinggi, membuat ratusan nelayan di Kabupaten Indramayu memilih tidak melaut.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas perikanan. Hal itu terlihat dari banyaknya kapal yang hanya bersandar di dermaga, serta menurunnya pasokan ikan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Seperti terlihat di Pelabuhan Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Jumat (16/1), ratusan kapal nelayan tidak berlayar, dan memilih bersandar di dermaga.
Baca Juga:Merespons Sikap Yaya Anggota DPRD dari Fraksi PKS, Pengamat: DPRD Bukan Juru Bicara BupatiRangga Gumilar Promosi Jabatan, Inilah Formasi Baru Dishub Kuningan
Mayoritas nelayan menghentikan sementara aktivitas melaut karena kondisi cuaca yang dinilai tidak aman.
Selain berisiko terhadap keselamatan, hasil tangkapan yang diperoleh juga tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Nelayan asal Desa Dadap, Kodori, mengatakan, angin kencang disertai gelombang tinggi memaksa nelayan menghentikan aktivitas melaut sejak sekitar satu bulan terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi faktor utama yang menghambat nelayan untuk bekerja di tengah laut.
“Kurang lebih sudah satu bulan ini angin dan ombak besar. Di tengah laut, tinggi gelombang bisa mencapai 2,5 hingga 3 meter. Demi keselamatan, kami sementara tidak melaut,” ujarnya.
Kodori mengungkapkan, terhentinya aktivitas melaut membuat sebagian besar nelayan terpaksa menganggur tanpa penghasilan tetap.
Selama menunggu cuaca membaik, aktivitas yang dilakukan hanya sebatas perbaikan kapal dan alat tangkap.
Baca Juga:Pemkab Indramayu Rencanakan Pengelolaan Tempat Wisata Diserahkan ke Pihak SwastaKTNA Siap Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan di Indramayu
Sementara nelayan yang tetap melaut hanya beroperasi di sekitar bibir pantai dengan hasil tangkapan yang sangat minim.
“Kalau tidak melaut, mayoritas nelayan di sini menganggur. Paling hanya membereskan perahu atau memperbaiki bagian yang rusak sambil menunggu cuaca membaik,” katanya.
Kondisi ini turut berdampak pada aktivitas di TPI di Kecamatan Juntinyuat. Di TPI Glayem, misalnya, aktivitas pelelangan tampak sepi dan jauh berbeda dibandingkan hari normal.
Minimnya kapal yang mendarat menyebabkan pasokan ikan menurun drastis sehingga transaksi lelang nyaris tidak berlangsung.
Hal tersebut dibenarkan Sekretaris KUD Sri Mina Sari Juntinyuat sekaligus Manajer TPI Glayem, Dedi Aryanto.
Ia menyebut, nelayan sudah tidak melaut sekitar satu minggu, sejak Jumat (9/1) lalu akibat cuaca buruk berupa angin kencang dan gelombang tinggi.
