Masih Siaga di Bulan Februari, BPBD Cirebon Imbau Masyarakat Waspadai Cuaca Ekstrem

Sekretaris BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda
SIAGA: Sekretaris BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada menghadapi cuaca ekstrem di Februari mendatang, kemarin. FOTO : SAMSUL HUDA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID -Musim penghujan pertengahan Januari 2026 relatif landai. Tidak begitu mengkhawatirkan. Masyarakat pun bisa sedikit lega.

Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon meminta masyarakat tetap waspada.

Prediksinya cuaca ekstrem kembali meningkat di Februari mendatang. Sekretaris BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda mengatakan, kondisi alam saat ini cenderung lebih bersahabat dalam memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas lebih tenang.

Baca Juga:STMIK IKMI Cirebon Perkuat Digitalisasi SDM lewat Instructor Mini Conference CiscoPetugas Harus Paham Haji Tamattu, Kemenhaj Tekankan Wajib Kuasai Dam, Miqat, dan Sektor Hotel Makkah

“Saat ini cuaca lebih landai. Tapi ketenangan itu bersifat sementara. Sebab, kami memprediksi memasuki awal Februari 2026 hingga sekitar minggu ketiga, potensi cuaca ekstrem kembali meningkat. Masyarakat harus kembali waspada,” ujar Syamsul kepada Radar Cirebon, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (22/1/2026).

Dijelaskannya, setelah melewati cuaca ekstrem, Kabupaten Cirebon biasanya memasuki masa pancaroba. Pada periode ini, ancaman angin kencang hingga puting beliung kerap muncul dan dapat berlangsung hingga Mei mendatang.

“Kondisi ini sering dikenal sebagai kemarau basah, terlebih jika tidak dipengaruhi siklon besar,” terangnya.

Menurutnya, letak geografis Kabupaten Cirebon yang strategis di pesisir utara Jawa Barat menjadi salah satu faktor utama kerentanan bencana.

“Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 54 kilometer dan luas wilayah mencapai 990,36 kilometer persegi,” ucapnya.

Menurutnya, cakupan wilayah yang luas itu membuat potensi bencana alam selalu menjadi perhatian serius. Bahkan, terdapat sembilan potensi bencana yang harus diwaspadai.

Mulai dari banjir, tanah longsor, rob, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan Gunung Ciremai, banjir bandang, hingga gempa bumi.

Baca Juga:Surat Gubernur KDM Turun, DPRD Cirebon Stop Sementara Aktivitas Galian dan Perumahan Lindungi Pekerja, DPRD Cirebon Ingatkan Pengusaha soal Penerapan UMK-UMSK 2026 

“Periode Januari tahun lalu hingga awal Januari tahun 2026 ini tercatat ada sekitar 160 kejadian bencana alam. Dampaknya dirasakan di hampir 40 kecamatan dan 151 desa,” paparnya.

Ia mengungkapkan, bahwa banjir menjadi bencana paling merusak. Hingga akhir November tahun lalu ada sekitar 8.000 unit rumah terendam, empat rumah rusak berat, 100 rumah rusak ringan, serta 65 rumah ibadah mengalami kerusakan ringan. Tak kurang dari 20 ribu kepala keluarga dan lebih dari 50 ribu jiwa terdampak.

“Banjir paling parah disebabkan kiriman air dari hulu dan sedimentasi Sungai Ciberes yang sudah sangat tinggi,” ungkapnya.

0 Komentar