RADARCIREBON.ID –Ekonomi ndonesia menutup tahun 2025 dengan catatan positif dari sisi perdagangan luar negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan total nilai ekspor nasional sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai USD 282,91 miliar.
Capaian tersebut naik 6,15 persen dibanding periode yang sama pada 2024, mencerminkan ketahanan ekspor di tengah dinamika perekonomian global dan pergeseran permintaan sejumlah komoditas.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut penguatan ekspor tahun lalu terutama ditopang oleh sektor nonmigas. Menurutnya, ekspor nonmigas menunjukkan kinerja yang lebih solid dengan pertumbuhan 7,66 persen dengan nilai mencapai USD 13,07 miliar. “Industri pengolahan menjadi tulang punggung utama. Andilnya dalam mendongkrak ekspor sepanjang 2025 sangat besar, tumbuh hingga 10,77 persen,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/2).
Baca Juga:AKMI Suaka Bahari Cirebon Siap Perkuat SDM Martim Nasional lewat Wisuda 2026Perkuat Tata Kelola, Pemkab Cirebon Helat Pelatihan Manajemen Risiko Eksekutif
Dari sisi komposisi, industri pengolahan masih menjadi andalan karena mampu memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dibanding ekspor bahan mentah. Dalam kelompok ini, minyak kelapa sawit masih memegang posisi sebagai komoditas ekspor terbesar. Meski demikian, BPS juga mencatat sinyal menggembirakan berupa menguatnya sejumlah komoditas lain yang kian kompetitif di pasar internasional.
Ateng menjelaskan, beberapa subsektor menunjukkan kenaikan signifikan, seperti pengolahan perhiasan, kimia dasar organik, berbagai produk pertanian, hingga industri logam. Tren ini dinilai penting karena menandai semakin luasnya basis ekspor Indonesia. Diversifikasi produk menjadi salah satu kunci ketangguhan, terutama ketika harga komoditas mentah berfluktuasi dan memengaruhi kinerja ekspor negara-negara berbasis sumber daya.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang utama Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke Negeri Tirai Bambu meningkat 7,11 persen dengan nilai mencapai USD 64,82 miliar. Selain Tiongkok, penguatan permintaan juga terlihat dari Amerika Serikat, negara-negara ASEAN, serta Uni Eropa.
“Hampir semua kawasan mitra utama mengalami peningkatan, kecuali India yang justru mencatatkan penurunan nilai ekspor,” kata Ateng.
Kinerja positif juga tercermin pada penutupan tahun. Pada Desember 2025, nilai ekspor mencapai USD 26,35 miliar, naik 11,64 persen dibanding Desember 2024. Kenaikan ini terutama disumbang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 13,72 persen, sementara ekspor migas justru mengalami kontraksi 18,14 persen. BPS menilai tren ini menegaskan peran nonmigas sebagai motor utama ekspor Indonesia, sekaligus memperlihatkan pentingnya memperkuat industri bernilai tambah untuk menjaga momentum pada tahun berikutnya.(dsw)
