Prabowo Tekuk Mafia Minyak, Sinyal Indonesia Menuju Kemandirian Energi

prabowo mafia minyak
Langkah Presiden Prabowo Subianto menekuk mafia minyak, seharusnya mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi. Foto hanya ilustrasi. Foto: Oil Megazine - tangkapan layar - radarcirebon.id
0 Komentar

Sebenarnya, sebut Deyang, Pertamina itu perusahaan BUMN Migas yang bukan kaleng-kaleng. Pertamina juga memiliki SDM yang handal tidak kalah dengan SDM perusahaan-perusahaan besar milik asing.

“Namun sayangnya karena terkungkung mafia minyak sekian puluh tahun yang senantiasa dilegalkan rezim dari jaman ke jaman, jadilah Pertamina menjadi perusahaan yang dikalahkan dan dikerdilkan,” tandasnya.

Wartawan senior ini pun mengungkap cerita soal Pertamina bisa membawa pulang ke pangkuan Ibu Pertiwi 1 juta barel minyak mentah ini. Cerita itu mirip saat akhirnya Indonesia bisa mengoperasikan kilang minyak terbesarnya. Banyak dramanya karena selalu dihalangi oleh para mafia.

Baca Juga:Masjid Sang Cipta Rasa Geger, Ada Jamaah Meninggal saat KhutbahJenazah Tersangkut di Jembatan Sungai Suranenggala Cirebon, Ternyata Warga Setempat

Sebetulnya, jelas dia, sudah sejak 2012 Pertamina melalui PT Pertamina Algeria Exploration and Production (PAEP) melakukan akuisisi participating interest Conoco Philip Algeria Ltd. Perusahaan itu memiliki 3 lapangan produksi. PAEP pun mulai tahun 2014 sudah mengelola aset Pertamina di Aljazair.

Namun, Deyang menyayangkan meski sudah melakukan eksplorasi di Gurun Sahara sejak 2014 itu, tidak pernah bisa menbawa pulang sepenuhnya hasil eksplorasi minyak mentah ke Indonesia. Hanya sedikit yang bisa bawa pulang.

“Sehingga untuk menggenapi biar bisa diangkut satu tanker, kita harus impor minyak. Inilah permainan mafia minyak. Kita tidak bisa membawa pulang hasil ladang minyak kita di luar negeri,” ungkapnya lagi.

Saat Prabowo dilantik menjadi presiden, jelas Deyang, yang terpikirkan paling utama adalah membasmi mafia. Meski sang mafia masih buron dan anaknya kini diadili, namun tata kelola minyak mulai ditata.

Dijelaskannya lagi, tahun 2025 aset Pertamina di Algeria dikelola melalui skema groupment. Melibatkan PAEP, Sonatrach, dan Repsol sebagai operator bersama.

Diuraikannya, area yang dikelola adalah Blok 405A. Memiliki luas area sekitar 714 km2. Lokasinya di Gurun Sahara. Dengan periode kontrak selama 25 tahun, hingga 2050.

Bagi Deyang ini adalah sejarah baru diukir pemerintahan Prabowo. Sejarah itu datang dari tangan anak-anak Indonesia yang bekerja di kilang Pertamina Gurun Sahara.

Baca Juga:Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap Delta Force, Operasi Mirip di Film ActionTransJakarta Benchmark Pengembangan BRT Trans Cirebon

“Setelah kontrak diperbarui dengan pemerintah dan perusahaan BUMN Aljazair, maka pada 22 Desember 2025 dilakukan penandatanganan lifting service contract terbaru,” sebutnya. Selanjutnya, jelas Deyang, pada 24 Desember 2025 dilakukan lifting crude oil Sahara sebanyak 1 juta barel dari loading Port Arzew, Aljazair. Pada 30 Januari 2026 tanker raksasa itu berhasil merapat di pelabuhan Cilacap untuk membongkar 1 juta barel minyak mentah jenis sweet crude.

0 Komentar