Bukan hanya itu, dari MBG ini jelas Deyang sudah memberikan peluang usaha hampir 800 ribu UMKM/Koperasi. Karena permintaan meningkat sehingga mereka bisa mempekerjakan 2-3 orang per UMKM atau koperasi. “Sehingga menyerap tenaga kerja baru 2-3 juta orang dari suplier yang menambah tenaga kerja, serta melibatlan 6-8 juta petani atau peternak,” tegasnya.
Yang juga perlu dicatat, tambah Deyang, dari SPPG operasional sudah melahirkan investasi mitra dan yayasan sebeaar Rp 90-100 triliun. Mereka telah membangun 33-35 ribu SPPG. “Itu bukan duit negara,” tegasnya lagi.
Untuk investasi masyarakat swasta, sebut Deyang, berjuta orang bisa bekerja sebagai tukang atau tenaga kerja bangunan di calon dapur MBG. Kemudian ribuan toko besi dan toko bangunan bisa hidup pasca dihantam Covid dimana bisnis properti lesu.
Baca Juga:Masjid Sang Cipta Rasa Geger, Ada Jamaah Meninggal saat KhutbahJenazah Tersangkut di Jembatan Sungai Suranenggala Cirebon, Ternyata Warga Setempat
Lalu saat dapur akan operasional, sebutnya lagi, ada ratusan pabrik peralalatan dapur harus berjibaku siang malam. Bahkan harus menambah ratusan karyawan per pabrik demi memenuhi kebutuhan peralatan dapur dan ompreng dari 33-35 ribu SPPG. Padahal sebelumnya banyak pabrik peralatan ini sudah mau mati.
Begitu juga, urainya, jika satu dapur butuh 2 mobil sesui Juknis BGN, berarti ada 66-70 ribu unit mobil terjual. Ini belum termasuk para suplier yang sekarang harus membeli mobil untuk mengantar ayam, tahu, tempe ke SPPG.
Deyang pun meminta Tiyo untuk menanyakan ke pabrik mobil dan showroom, berapa jumlah peningkatan penjualan mereka karena MBG. Lalu berapa ratus ribu atau juta motor bisa dibeli oleh para pekerja di SPPG yg selama ini tdk punya pekerjaan.
“Setelah ada SPPG dan mereka bisa kerja maka mereka pun mengkredit motor baru. Lagi-lagi pabrik motor makin hidup dan tenaga kerja juga bertambah di sana,” sebutnya.
Deyang pun meminta membandingkan dengan program Bansos baik dalam bentuk subsidi maupun program lain yang semua tunai. Mulai dari BLT, PKH, bantuan sembako, dan bantuan pendidikan yang tiap tahun digelontorkan negara sebesar Rp 560 -570 triliun.
