Tabrakan di Koridor 13, Evaluasi Serius Keselamatan Bus TransJakarta

Kecelakaan TransJakarta
RINGSEK: Kondisi bus TransJakarta setelah terlibat tabrakan hebat yang menyebabkan bagian depan ringsek parah, Senin (23/2). Foto: Istimewa 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID –Insiden mengerikan terjadi di “jalur langit” Koridor 13 TransJakarta, tepatnya di ruas Swadarma arah Cipulir, Jakarta Selatan, Senin (23/2) pagi. Dua bus TransJakarta terlibat tabrakan hebat yang menyebabkan bagian depan kedua armada ringsek parah. Peristiwa ini kembali mengingatkan publik bahwa keselamatan transportasi masal harus menjadi prioritas mutlak, bukan sekadar slogan.

Menurut keterangan Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Komarudin, sopir bus telah diamankan untuk diperiksa lebih lanjut. Bus dengan kode BMP 220263 rute Tegal Mampang–JORR dilaporkan melaju di jalur layang Koridor 13 sebelum akhirnya oleng dan masuk ke jalur berlawanan arah saat mendekati Halte Swadarma. Pramudi berinisial Y diduga kehilangan konsentrasi akibat mengantuk. Dalam waktu bersamaan, bus MYS 17100 datang dari arah berlawanan, sehingga benturan keras tak terhindarkan.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi sebanyak 23 orang menjadi korban luka ringan. Para korban segera dievakuasi ke rumah sakit terdekat.

Baca Juga:Jalan Rusak di Kompleks Pemkab Cirebon Dibiarkan, Ancam Keselamatan PengendaraLebaran 1447 H Berpotensi Kembali Tidak Serempak

“Korban terdata 23 orang dengan kondisi luka ringan. Petugas langsung mengevakuasi mereka ke rumah sakit terdekat, termasuk RS Sari Asih,” kata Budi Hermanto.

Secara resmi, pihak TransJakarta melalui Kepala Departemen Humas dan CSR Ayu Wardhani, menyatakan bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan penumpang bersama operator armada.

Koridor 13 sendiri dikenal sebagai jalur layang eksklusif bus rapid transit (BRT) yang dirancang untuk meminimalkan hambatan lalu lintas. Namun karakteristik jalur layang—dengan ruang terbatas dan tanpa banyak ruang manuver—justru meningkatkan risiko fatal jika terjadi kesalahan manusia. Dalam literatur keselamatan transportasi, faktor kelelahan dan microsleep pada pengemudi merupakan salah satu penyebab dominan kecelakaan lalu lintas. Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, dalam Global Status Report on Road Safety menegaskan bahwa faktor manusia seperti kelelahan dan kurangnya kewaspadaan berkontribusi signifikan terhadap kecelakaan jalan raya secara global.

Analisis kritis atas peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan bukan semata pada individu sopir, tetapi juga pada sistem. Manajemen jam kerja, pengawasan kondisi fisik pramudi, hingga penerapan teknologi seperti driver monitoring system menjadi krusial. Studi keselamatan transportasi publik menunjukkan bahwa pendekatan berbasis sistem—bukan sekadar menyalahkan individu—lebih efektif dalam menekan angka kecelakaan.

0 Komentar