Asyrof Ingatkan Pemprov Jabar Ancaman Desa Tanpa Petani

Anggota DPRD Jabar M Asyrof Abdik SHub Int
PANDANGAN FRAKSI: Anggota DPRD Jabar M Asyrof Abdik SHub Int (kanan) saat menyerahkan pandangan fraksi PKB terkait rapor satu tahun Jabar Istimewa. FOTO : DPRD JABAR FOR RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Satu tahun duet kepemimpinan Dedi Mulyadi dan Erwan Setiawan memimpin Jawa Barat telah menghadirkan warna tersendiri.

Narasi “Jabar Istimewa” digaungkan melalui simbol-simbol budaya, pendekatan lembur, hingga panggung-panggung festival yang memikat perhatian publik.

Wajah Jawa Barat tampil penuh estetika, tradisional, berkarakter, dan sarat pesan kultural. Namun, pemerintahan tidak cukup berhenti pada pencitraan yang indah melalui pementasan seni.

Baca Juga:Festival Ramadan untuk Semua Warga CirebonBPBD Minta Masyarakat Cirebon Tetap Waspada, Cuaca Ekstrem

Di balik sorotan kamera dan riuh media sosial, ada realitas ekonomi yang belum sepenuhnya terjawab. Rakyatnya masih berwajah muram.

Demikian disampaikan, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat, Muhammad Asyrof Abdik, SHub Int.

Politisi PKB itu memandang penting untuk menyeimbangkan antara panggung simbolik dan kerja konkret yang menyentuh dapur rakyat.

Salah satu ironi paling nyata terlihat di wilayah Pantura, khususnya Indramayu dan Cirebon. Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung padi nasional, bahkan kerap disebut sebagai produsen padi terbesar di Indonesia.

Namun di saat yang sama, kesejahteraan petani belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional.

“Fenomena yang lebih mengkhawatirkan mulai terlihat: ancaman “desa tanpa petani”. Generasi muda di Cirebon dan Indramayu semakin banyak yang memilih merantau atau bekerja di sektor industri,” kata Asyrof.

Menurutnya, bagi generasi saat ini bertani dianggap tidak lagi menjanjikan masa depan. Jika situasi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan regenerasi petani dalam satu dekade ke depan.

Baca Juga:Refleksi Satu Tahun, Tanpa Kehadiran Wakil Walikota Farida Investasi Tembus Rp1,8 Triliun, Pemkot Cirebon Andalkan Sektor Jasa dan Perdagangan

Branding agraris melalui jargon “Jabar Istimewa” tentu patut diapresiasi. Namun branding harus diikuti keberpihakan nyata.

“Saya mendorong agar Pemprov Jabar menghadirkan kebijakan afirmatif, seperti insentif pajak daerah dan subsidi input pertanian khusus bagi zona hijau di Indramayu dan Cirebon. Langkah ini penting agar profesi petani kembali kompetitif dan memiliki daya tarik ekonomi,” terangnya.

Kata Asyrof, memasuki tahun kedua kepemimpinan, masyarakat, khususnya di wilayah Ciayumajakuning, menunggu keberanian politik untuk menyentuh akar persoalan, bukan sekadar permukaannya. Pembangunan ekonomi berbasis budaya harus berjalan seiring dengan penguatan sektor riil, terutama pertanian sebagai tulang punggung daerah.

0 Komentar