Suasana hening dan khidmat terasa kuat. Cahaya lampu temaram, lantunan ayat suci, serta aroma khas dupa ziarah menciptakan nuansa spiritual yang mendalam bagi para peziarah.
Menurut Sujai, Mbah Kuwu Sangkan juga dikenal dengan nama Pangeran Walangsungsang. Ia merupakan putra pasangan Prabu Siliwangi dan Nyi Subang Larang. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal sebagai pangeran di Kerajaan Pajajaran. Ia kemudian meninggalkan kerajaan untuk memperdalam ajaran Islam dan memulai dakwah di wilayah Cirebon.
Ia memiliki dua saudara kandung, yakni Nyi Rara Santang dan Prabu Kian Santang. Bersama Nyi Rara Santang, Walangsungsang belajar agama Islam kepada Syekh Nurul Djati. Dari proses itulah cikal bakal perkembangan peradaban Islam di Cirebon mulai terbentuk.
Baca Juga:Ini Dia Hukum Bercumbu di Bulan RamadanMemaknai Kisah Umar bin Khattab untuk Membangun Generasi Emas
Walangsungsang kemudian dikenal sebagai tokoh yang membangun fondasi pemerintahan, pendidikan, ekonomi, dan budaya di Cirebon. Dalam perjalanan hidupnya, ia menikahi Nyi Endang Geulis, putri Danuwarsih. Dari pernikahan tersebut lahir Nyi Mas Pakungwati yang kemudian menikah dengan Syarif Hidayatullah, tokoh yang kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.
Kompleks makam Mbah Kuwu Sangkan juga memiliki ciri arsitektur khas Cirebon. Pintu gerbangnya menjadi salah satu daya tarik utama. Di sisi kiri dan kanan gerbang terdapat ornamen kepala kerbau dan kepala harimau. Kepala kerbau melambangkan kerbau bule, hewan peliharaan Mbah Kuwu Sangkan, sementara kepala harimau menjadi simbol Prabu Siliwangi, ayahnya.
Bagi para peziarah, Ramadan di Keramat Talun bukan sekadar tradisi ziarah. Momen ini menjadi ruang untuk memperdalam spiritualitas sekaligus mengenang tokoh yang berperan besar dalam sejarah berdirinya Cirebon. (ade)
