Menurutnya, bantuan tersebut sangat membantu karena proses memasak menjadi lebih praktis dan efisien.
“Kami mengapresiasi dukungan PGN yang telah membantu menyediakan energi gas bumi untuk dapur MBG kami. Dengan adanya gas bumi ini, kegiatan memasak untuk menyiapkan makanan bagi para siswa menjadi lebih praktis dan efisien, sehingga kami dapat lebih fokus dalam menyediakan makanan bergizi bagi para penerima manfaat program MBG,” ujar Achmad Robani.
Ia berharap program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih optimal dalam memberikan manfaat bagi para siswa sekaligus mendukung peningkatan kualitas gizi generasi muda di wilayah Cirebon.
Baca Juga:Pesantren Al Hikmah Gelar Diklatsar BSMRAsyrof Ingatkan Pemprov Jabar Ancaman Desa Tanpa Petani
Di dapur MBG Yayasan Miftahul Ulum, setiap hari disiapkan makanan bagi sekitar 2.700 penerima manfaat yang berasal dari 20 sekolah di wilayah Cirebon. Dalam operasionalnya, dapur tersebut melibatkan sekitar 47 tenaga pekerja dapur dan lima orang staf yang bertugas menyiapkan makanan setiap hari.
Dengan dukungan energi gas bumi dari PGN, operasional dapur MBG diharapkan dapat berjalan lebih efisien sehingga program penyediaan makanan bergizi bagi para siswa dapat terus berkelanjutan.
BGN Perketat Standar Dapur Program MBG, Pengelola Wajib Kantongi Sertifikat Higiene
Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat standar pengelolaan dapur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain memastikan ketersediaan makanan bergizi, pemerintah juga menekankan pentingnya keamanan pangan agar setiap hidangan yang disajikan aman dikonsumsi masyarakat.
Untuk mendukung hal tersebut, BGN menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di Aston Cirebon Hotel and Convention Center, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan tersebut diikuti oleh para pengelola dapur, penjamah makanan, hingga pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Para peserta mendapatkan pembekalan terkait standar kebersihan dapur, tata cara pengolahan makanan, hingga pengelolaan limbah agar tidak menimbulkan risiko kontaminasi.
Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran BGN, Brigjen (Purn) Suardi Samiran, menegaskan bahwa kualitas program MBG sangat ditentukan oleh sistem pengolahan makanan di lapangan, bukan sekadar ketersediaan bahan pangan bergizi.
Karena itu, setiap orang yang terlibat dalam proses pengolahan makanan harus memahami prinsip kebersihan diri, penggunaan perlengkapan kerja yang higienis, serta prosedur penanganan makanan yang aman.
