RADARCIREBON.ID – Peredaran pangan bermasalah di Jakarta kembali menjadi alarm serius menjelang puncak konsumsi Ramadan dan Idulfitri. Hasil pengawasan terbaru Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan masih banyak produk pangan yang beredar tanpa memenuhi ketentuan, mulai dari makanan ringan ilegal hingga takjil yang mengandung bahan berbahaya.
Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan pangan musiman masih kerap dimanfaatkan oleh pelaku usaha yang mengabaikan keselamatan konsumen.
Dalam pengawasan yang dilakukan di wilayah DKI Jakarta, BPOM memeriksa 18 sarana distribusi dan peredaran pangan. Dari jumlah tersebut, sembilan sarana atau separuhnya dinyatakan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).
Baca Juga:Kemenag Kota Cirebon Lakukan Rukyatul Hilal Konflik Iran-AS Berimbas ke Energi Dalam Negeri
Pelanggaran yang paling menonjol adalah peredaran makanan ringan ilegal yang tidak memiliki kejelasan asal-usul maupun legalitas edar.
Kepala BPOM Taruna Ikrar turun langsung memimpin inspeksi di sejumlah titik strategis di Jakarta. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Lotte Grosir Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Di tempat itu, petugas mendapati fasilitas penyimpanan beku atau cold storage dalam kondisi melebihi kapasitas.
Menurut BPOM, kondisi seperti itu berisiko mengganggu stabilitas suhu ruang penyimpanan dan dapat mempercepat penurunan mutu pangan, terutama produk beku yang sangat bergantung pada pengendalian suhu.
Taruna menegaskan, praktik penyimpanan yang tidak sesuai standar tidak bisa dibenarkan hanya karena alasan ekonomi atau upaya mengosongkan stok barang. Ia menilai, kepentingan bisnis tidak boleh mengorbankan kesehatan masyarakat, terlebih pada masa Ramadan ketika kebutuhan pangan meningkat sangat tajam.
“Gudang dingin yang overload itu berisiko meningkatkan suhu ruangan. Akibatnya, pangan di dalamnya potensial rusak lebih cepat. Jangan karena motif ekonomi dan ingin cuci gudang, pelaku usaha malah mengabaikan kesehatan masyarakat,” ujar Taruna, Selasa 10 Maret 2026.
Ancaman pangan berbahaya juga ditemukan pada jajanan takjil yang banyak diburu masyarakat saat waktu berbuka puasa. Dari 222 sampel takjil yang diuji BPOM di Jakarta, sebanyak 10 sampel atau sekitar 4,5 persen terbukti mengandung bahan berbahaya. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan Rhodamin B pada kue mangkok dan kerupuk, serta formalin pada mi kuning dan tahu.
