RADARCIREBON.ID –Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario ekonomi untuk mengantisipasi dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap kondisi fiskal nasional.
Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi pasokan energi internasional.
Airlangga menjelaskan pemerintah telah melakukan simulasi dengan beberapa asumsi durasi konflik global, yakni selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan. Setiap skenario disertai dengan proyeksi kenaikan harga minyak yang berbeda-beda.
Baca Juga:Wawali Dorong Anak Muda Ambil Peran Nyata dalam PembangunanPemkab Cirebon Berhasil Pulangkan Korban Dugaan TPPO dari China
Menurutnya, dalam skenario lima hingga enam bulan konflik, harga minyak dunia diperkirakan dapat mencapai sekitar 107 dolar AS per barel sebelum kemudian kembali mengalami penurunan. Sementara dalam skenario yang lebih panjang, yakni sepuluh bulan, harga minyak bahkan diproyeksikan bisa melonjak hingga 130 dolar AS per barel sebelum stabil di sekitar 125 dolar AS hingga akhir tahun.
Airlangga menjelaskan bahwa realisasi harga minyak pada awal tahun masih relatif terkendali. Berdasarkan data pemerintah, harga minyak pada Januari dan Februari masing-masing tercatat sekitar 64,41 dolar AS dan 68,79 dolar AS per barel. Angka tersebut masih berada di bawah asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sekitar 70 dolar AS per barel.
“Nah pembelian kita di bulan Januari-Februari itu angkanya 64,41 dolar dan 68,79. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70,” kata Airlangga dalam laporannya kepada Presiden Prabowo di Sidang Kabinet, akhir pekan kemarin (13/3/2026).
Namun demikian, pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga energi dalam beberapa bulan ke depan. Dalam kondisi tertentu, rata-rata harga minyak Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) diperkirakan bisa meningkat hingga sekitar 90 dolar AS per barel.
Dalam skenario pertama yang dianggap relatif ringan, ICP diproyeksikan berada di kisaran 86 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS. Pada kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan masih dapat dipertahankan di kisaran 5,3 persen. Meski demikian, tekanan fiskal tetap muncul dengan potensi pelebaran defisit anggaran hingga sekitar 3,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
