Sementara itu, dalam skenario moderat kedua, harga minyak diperkirakan meningkat hingga 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah melemah ke sekitar Rp17.300 per dolar AS. Dalam situasi ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di sekitar 5,2 persen. Namun, imbal hasil surat berharga negara dapat meningkat hingga sekitar 7,2 persen, sementara defisit anggaran berpotensi melebar hingga 3,53 persen dari PDB.
“Kemudian kalau skenario moderat kedua dengan harga minyaknya 97, kursnya 17.300, growth-nya di 5,2, surat berharga negaranya lebih tinggi lagi di 7,2 persen. Nah defisitnya itu mencapai 3,53 persen,” ujarnya.
Airlangga juga memaparkan kemungkinan skenario terburuk apabila harga minyak melonjak hingga 115 dolar AS per barel. Jika kondisi tersebut terjadi, nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah hingga sekitar Rp17.500 per dolar AS. Meski pertumbuhan ekonomi masih diperkirakan bertahan di kisaran 5,2 persen, tekanan terhadap fiskal negara akan semakin besar.
Baca Juga:Wawali Dorong Anak Muda Ambil Peran Nyata dalam PembangunanPemkab Cirebon Berhasil Pulangkan Korban Dugaan TPPO dari China
Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat hingga sekitar 4,06 persen dari PDB. Angka tersebut jauh melampaui batas defisit 3 persen yang selama ini menjadi patokan dalam pengelolaan keuangan negara.
Menurut Airlangga, menjaga defisit tetap berada di bawah batas tersebut akan menjadi tantangan besar jika harga minyak dunia terus meningkat. Pemerintah kemungkinan harus mengambil langkah penyesuaian fiskal, termasuk efisiensi belanja negara.
“Dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan,” ujar Airlangga.
Ia menegaskan bahwa tanpa langkah penghematan atau penyesuaian kebijakan, mempertahankan defisit di level 3 persen akan sangat sulit. Oleh karena itu, pemerintah terus memantau perkembangan ekonomi global dan menyiapkan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. (dsw)
