Semua dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, petugas juga bertanggung jawab mengubah sinyal jalur jika diperlukan. Di JPL 200 Krucuk, semua itu dilakukan oleh satu orang petugas dalam satu waktu jaga.
Artinya, seluruh prosedur berada di tangan satu orang. Pada Senin siang itu, Asir terlihat menekan tombol pada panel logam di dinding pos jaga. Lampu indikator menyala. Alarm perlintasan berbunyi. Di luar, kendaraan mulai berhenti di depan palang pintu. Beberapa menit kemudian, deru lokomotif terdengar dari kejauhan. Kereta melintas cepat di atas rel.
Saat kereta mendekat, Asir keluar dari pos jaga. Ia berdiri di dekat rel. Tangan kanannya terangkat. Gerakan itu dikenal sebagai semboyan satu. Sebuah tanda penghormatan kepada masinis sekaligus pengecekan keselamatan rangkaian kereta.
Baca Juga:Musim Mudik Sewa Mobil Meningkat Tajam, 8.664 Unit Sold Out Bisnis Rental Mobil di CiayumajakuningASN Eselon II Kota Cirebon Dilarang Mudik
Di jalur rel yang membelah permukiman warga Krucuk itu, sebuah lokomotif putih-merah melintas cepat. Getaran terasa di tanah. Asir tetap berdiri tegak. Matanya mengikuti rangkaian gerbong yang bergerak cepat. Ia memastikan semua sambungan kereta aman. “Kereta itu kan banyak sambungannya. Kita harus lihat apakah ada yang lepas atau tidak,” ujarnya.
Petugas harus memastikan seluruh rangkaian kereta tersambung dengan baik. Jika ada kejanggalan, laporan harus segera dikirim melalui telepon komunikasi. Di akhir rangkaian kereta, petugas juga memperhatikan semboyan dua satu. Itu menandakan kereta terakhir. Baru setelah itu perlintasan bisa dibuka kembali.
Menjaga perlintasan bukan hanya soal jadwal kereta. Tantangan lain datang dari perilaku pengguna jalan. Menurut Asir, perlintasan Krucuk sering menjadi “jalur uji nyali”. Meski palang sudah tertutup dan alarm berbunyi, masih ada pengendara yang nekat menerobos. “Kita sudah peringatkan, tapi tetap saja ada yang nerobos,” katanya.
Situasi paling berbahaya terjadi ketika dua kereta melintas hampir bersamaan. Petugas menyebutnya dobel tanggung. Artinya, kereta pertama baru saja lewat, sementara kereta berikutnya sudah mendekat dari arah berlawanan. Dalam kondisi seperti itu, pengendara sering mengira jalur sudah aman. Padahal kereta kedua sudah dekat. “Itu yang paling bahaya,” jelas Asir.
