RADARCIREBON.ID – Masyarakat penyapu koin di Jembatan Sewo perbatasan Kabupaten Indramayu – Subang, mendapatkan kompensari dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) sebesar Rp50 ribu per hari.
Untuk mendapatkan kompensasi tersebut, KDM –sapaan akrab Dedi Mulyadi) meminta agar penyapu koin tidak boleh turun ke Jembatan Sewo selama musim mudik – arus balik Idul Fitri 2026.
Kompensasi tersebut sebagai pengganti para penyapu koin agar tidak beraktivitas di jalanan.
Baca Juga:Resmi Rilis Maret 2026 di Netflix, Live-Action One Piece Melanjutkan Arc Dari Musim SebelumnyaDestinasi Wisata Libur Lebaran di Majalengka, Simak Rekomendasi Berikut Ini
“Ini supaya aktivitas arus mudik dan arus balik tidak tersendat oleh pencari koin. Ini juga utuk keselamatan warga dan para pengendara,” kata KDM.
Rencananya, KDM akan membagikan kompensasi tersebut pada Rabu sore, 18, Maret 2026.
Untuk ketertiban dan tepat sasaran penyaluran kompensasi, KDM meminta agar penyapu koin segera koordinasi dengan RT dan RW setempat.
Nantinya dari pihak RT dan RW akan melakukan pendataan, sehingga kompensasi dapat diberikan sesecara tepat sasaran.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jabar Ade Afriandi mengatakan, para pencari koin akan mendapat kompensasi selama 12 hari, yakni enam hari sebelum dan enam hari setelah Idul Fitri.
“Selama tidak berakivitas, ada kompensasi dari Pemprov sebesar Rp50.000 per orang per hari, dikali 12 hari,” ujarnya.
Berdasarkan pendataan DPMD Jabar pada Selasa, 17 Maret 2026, terdapat 104 pencari koin di Desa Sukra, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.
Sementara di Desa Karanganyar, Kecamatan Pusaka Jaya, Kabupaten Subang ada 55 orang.
Baca Juga:Masyarakat Tak Perlu Panic Buying, Stok BBM AmanMenlu Iran Bantah Ayatollah Ali Khamenei Tewas, Araghci: Seluruh pejabat tinggi masih hidup
Namun, muncul para pencari koin musiman yang berasal dari dua desa tersebut serta datang dari desa lain. Oleh karena itu, akan dilakukan pendataan kembali.
Para pencari koin musiman kerap bermunculan meskipun telah ditertibkan oleh aparat keamanan. Faktor ekonomi mendorong mereka untuk mencari uang di jalan. Selain itu, tradisi yang sudah berlangsung sejak lama menjadi alasan mereka turun ke jalan.
