RADARCIREBON.ID – Pemantauan hilal 1 Syawal di Pantai Baro, Gebang, Kabupaten Cirebon, Kamis, 19, Maret 2026, diprediksi tidak membuahkan hasil.
Selain ketinggian hilal yang belum memenuhi syarat, cuaca di lokasi juga tidak bersahabat.
Ketua BHRD Kabupaten Cirebon, DR KH Samsudin MA, mengatakan berdasarkan perhitungan hisab, tinggi hilal pada posisi hari ini hanya sekitar 1 derajat. Angka tersebut masih jauh dari kesepakatan negara anggota MABIMS yang menetapkan batas minimal visibilitas hilal 3 derajat.
Baca Juga:Resmi Rilis Maret 2026 di Netflix, Live-Action One Piece Melanjutkan Arc Dari Musim SebelumnyaDestinasi Wisata Libur Lebaran di Majalengka, Simak Rekomendasi Berikut Ini
“Secara hitungan, tinggi hilal masih 1 derajat. Sementara kesepakatan MABIMS, hilal bisa dianggap terlihat minimal 3 derajat,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap melaksanakan rukyatul hilal di Pantai Baro sebagai bagian dari prosedur penentuan awal bulan hijriah. Pemantauan ini, lanjutnya, merupakan bentuk ikhtiar meskipun secara teori peluang terlihatnya hilal sangat kecil.
“Rukyatul hilal tetap dilakukan sebagai bagian dari proses. Walaupun secara hisab peluangnya sangat kecil,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi cuaca di lokasi pemantauan juga menjadi kendala. Sejak sore hingga menjelang magrib, kawasan Pantai Baro diguyur hujan cukup deras. Kondisi ini semakin memperkecil kemungkinan hilal dapat terlihat.
“Cuaca hujan deras, jadi secara kasat mata juga sangat sulit untuk melihat hilal,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, jika di seluruh wilayah Indonesia tidak ada satu pun yang berhasil melihat hilal—terlebih dengan ketinggian di bawah kriteria—maka bulan Ramadan dipastikan digenapkan menjadi 30 hari.
“Kalau seluruh Indonesia tidak ada yang menyaksikan hilal, maka Ramadan digenapkan 30 hari. Artinya, Idulfitri diperkirakan jatuh pada Sabtu (21/3),” pungkasnya.
