RADARCIREBON.ID – Mudik menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada lebaran Idul Fitri. Tradisi mudik ini, menjadi beragam peristiwa dan cerita di jalanan pantura. Ungkapan rasa juga kadang diungkapkan oleh para pemudik melalui tulisan.
Seperti yang terlihat oleh Radar Cirebon, sejumlah tulisan unik terlihat menghiasi kendaraan para pemudik saat melintasi jalur Pantura, Kota Cirebon.
Tulisan-tulisan tersebut beragam, mulai dari kritik terhadap kondisi jalan, pesan hiburan, hingga ungkapan rindu kepada keluarga di kampung halaman.
Baca Juga:Ketua Umum GP Anshor Tinjau Posko Mudik GP Ansor Kecamatan HarjamuktiAndalus City Gelar Itikaf dan Qiyamul Lail di Akhir Ramadan
Beragam cara dilakukan pemudik untuk mengekspresikan perjalanan pulang. Tulisan itu dipasang di belakang barang bawaan mereka, tujuannya agar dapat dibaca oleh pengendara yang ada di belakang.
Di Jalur Pantura Cirebon, tulisan-tulisan ini tampak mencuri perhatian pengguna jalan lainnya.
Salah satu tulisan dari Pemudik asal Cilegon, Banten, yang menuju Temanggung, Jawa Tengah bernama Pambudi. Ia menempuh perjalanan mudik 588 KM dan memilih mengungkapkan perasaan melalui tulisan.
“Pergi merantau mencari cuan, pulang mudik bawa kerinduan, Anakmu teko mak! Baksone ojo lali” tulisannya.
Pambudi mengaku, tulisannya dibuat untuk menyemangati sesama pemudik agar perjalanan terasa lebih ringan.
“Untuk menyemangati pemudik lainnya, agar tidak terasa capek. Memang tadi ramai, jadi gak capek. Tulisan ini, maknanya, sebagai ungkapan rindu keluarga di kampung,” katanya.
Berbeda dengan tulisan yang dibuat oleh Andre, seorang pemudik ada Jakarta yang hendak menuju Banyumas.
Baca Juga:Band Asal Cirebon Timur Rilis Lagu Religi “Terpeluk Sunyi”, Angkat Kreativitas Syair Taubat yang MenyentuhRatusan Jemaah Asy Syahadatain di Indramayu Rayakan Idul Fitri Hari Ini
Ia menyampaikan pesan menghibur sekaligus kritik terhadap pemerintah, terkait kondisi sepanjang jalan Pantura yang masi berlubang.
Ia menuliskan “Lubang di jalan tak seindah lubang berjalan, hati-hati lur, hihihi crit,”. Tulisannya itu sebagai hiburan sekaligus pengingat untuk pengendara yang ada di belakang, agar lebih hati-hati. Pasalnya, masi banyak lubang di jalan pantura yang ia temui, dari Jakarta hingga Cirebon.
“Jadi tulisan biar lebih hati-hati lagi di jalan. Tulisannya ‘Lubang di jalan, tak seindah lubang berjalan’, karena di Pantura banyak lubang. Harapannya pemerintah bisa memperbaiki jalan. Pajaknya kan bayar terus setiap tahun, masa jalannya gitu-gitu terus,” ujarnya.
