RADARCIREBON.ID – Lebaran selalu membawa cerita yang sama ke Cirebon. Kota ini tidak terlalu besar. Namun, setiap Idul Fitri terasa begitu penuh.
Jalan-jalan dipadati kendaraan berpelat luar daerah. Rumah-rumah kembali ramai. Rindu yang tertahan selama setahun akhirnya terbayar.
Para perantau pulang. Mereka datang dari Jakarta, Bandung, hingga kota-kota industri di Jawa Barat. Ada pula yang datang dari luar Pulau Jawa. Mudik bagi mereka bukan sekadar perjalanan pulang. Tetapi momen mengulang kenangan.
Baca Juga:Resmi Rilis Maret 2026 di Netflix, Live-Action One Piece Melanjutkan Arc Dari Musim SebelumnyaDestinasi Wisata Libur Lebaran di Majalengka, Simak Rekomendasi Berikut Ini
Pertemuan dengan keluarga menjadi agenda utama. Namun, ada satu hal lain yang hampir selalu dilakukan para perantau saat pulang ke Cirebon: berburu kuliner khas. Bagi sebagian orang, rasa makanan di kota asal selalu berbeda. Lebih otentik. Lebih mengingatkan pada masa kecil.
Dicky Pratama, 32 tahun, salah satunya. Warga Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, ini sudah hampir delapan tahun bekerja di Jakarta. Ia mengaku hanya pulang setahun sekali saat Idul Fitri.
Bagi Dicky, pulang ke Cirebon tidak pernah lengkap tanpa mencicipi kuliner khas daerah. “Yang pertama dicari pasti empal gentong. Setelah itu nasi jamblang dan tahu gejrot,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Dicky biasanya mengajak keluarganya makan bersama setelah salat Id. Ia juga menyempatkan diri berziarah ke makam keluarga.
Setelah itu, agenda kuliner dimulai. Beberapa tempat makan yang sering ia datangi antara lain warung empal gentong di jalur Pantura, pedagang nasi jamblang di pusat kota, hingga tahu gejrot di pinggir jalan.
Menurutnya, rasa makanan tersebut sulit ditemukan di kota perantauan. “Kalau di Jakarta ada juga yang jual. Tapi rasanya beda. Mungkin karena bumbunya atau suasananya,” katanya.
Selain makan di tempat, Dicky juga hampir selalu membawa oleh-oleh ketika kembali ke Jakarta. Produk khas Cirebon menjadi pilihan utama.
Baca Juga:Masyarakat Tak Perlu Panic Buying, Stok BBM AmanMenlu Iran Bantah Ayatollah Ali Khamenei Tewas, Araghci: Seluruh pejabat tinggi masih hidup
Biasanya berupa kerupuk melarat, terasi udang, hingga sambal khas Cirebon. Ada juga yang membawa empal gentong dalam kemasan. “Teman-teman di kantor biasanya sudah titip duluan,” ucapnya.
Cerita serupa datang dari Bunga Yulian, 25 tahun. Warga Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, ini bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Bandung.
