Sisa bulan lainnya di tahun 2025 menunjukkan grafik yang fluktuatif namun stabil di angka tiga digit. Mei mencatat 94 pernikahan, Juli 123, Agustus 86, September 149, Oktober 198, November 143, dan Desember ditutup dengan 196 pernikahan.
Tren serupa mulai membayangi tahun 2026. Januari tercatat 138 pernikahan, disusul Februari dengan 111 peristiwa. Maret 2026, yang kembali memasuki masa Ramadan, mencatatkan 88 pernikahan. Angka Maret 2026 ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret tahun sebelumnya, menunjukkan adanya pergeseran atau keberanian pasangan untuk tetap melangsungkan akad meski di tengah bulan puasa, walau jumlahnya tetap di bawah rata-rata bulanan normal.
Kini, memasuki akhir Maret dan menyongsong Syawal, petugas KUA mulai bersiap menghadapi gelombang pendaftar yang diprediksi akan kembali menyentuh angka ratusan per bulan.
Baca Juga:Pekan Ini Tersangka Korupsi Kredit Macet Bank Cirebon Diumumkan? Hasil Audit BPK Sudah AdaTerminal Harjamukti Kota Cirebon Megah Tapi Sepi Penumpang, Bus Ngetem di Luar Pagar
Andi Yusuf memberikan gambaran nyata di lapangan. Di Kecamatan Lemahwungkuk saja, aktivitas sudah sangat padat sejak hari kedua Lebaran. Sejak 2 Syawal hingga hari ke-8 Syawal, tercatat sudah ada 15 pasangan yang sah menjadi suami-istri. “Ini sebagai sampel saja,” cetusnya.
Jika satu kecamatan kecil saja mencatat 15 pasang dalam sepekan, bisa dibayangkan totalitas angka di lima kecamatan se-Kota Cirebon. Secara geografis, Harjamukti tetap menjadi “raja” urusan pernikahan di Kota Cirebon. Wilayahnya paling luas. Penduduknya paling padat. “Harjamukti paling tinggi untuk tiap bulannya. Dan secara tahunan pun juga Harjamukti paling tinggi,” jelas Andi.
Peta sebaran pernikahan di Kota Cirebon menempatkan Harjamukti di posisi pertama, disusul Lemahwungkuk di posisi kedua, Kesambi di posisi ketiga, Kejaksan di posisi keempat, dan terakhir Pekalipan. Harjamukti unggul karena faktor demografi dan ketersediaan lahan untuk permukiman baru. Banyak pasangan muda yang berdomisili di wilayah ini, sehingga administrasi pernikahan pun terkonsentrasi di KUA setempat.
Sementara Pekalipan, sebagai wilayah pusat niaga yang padat namun sempit secara luasan wilayah hunian, mencatatkan angka terkecil namun tetap memiliki kesibukan yang konstan.
Mengapa harus Syawal? Ada dua alasan besar yang mendasari fenomena ini: spiritualitas dan praktikalitas yang saling berkelindan. Pertama, soal keberkahan. Masyarakat Cirebon yang religius meyakini Syawal adalah bulan baik untuk memulai sesuatu yang baru. Syawal bermakna “peningkatan”. Setelah sebulan penuh menempa diri di bulan Ramadan, menikah dianggap sebagai bentuk peningkatan kualitas hidup dan ibadah. Idulfitri menjadi momentum penyucian diri, dan pernikahan menjadi gerbang awal menempuh hidup baru yang bersih.
