Geger Meteor di Lampung, Kilatan Cahaya Ternyata Sampah Antariksa

meteor di lampung
Kilatan cahaya yang diduga meteor melintas di langit Lampung, namun dipastikan bahwa itu adalah sampah antariksa roket China. Foto: Tangkapan layar - radarcirebon.id
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Warga di Kota Cilegon, Provinsi Banten hingga Lampung Utara, Lampung Timur dan Lampung Selatan, Provinsi Lampung geger dengan kilatan cahaya yang diduga meteor jatuh.

Namun, kabar terkait lintasan meteor tersebut, ternyata bukan benda langit yang jatuh ke bumi. Menurut praktisi astronomi, kilatan cahaya dan api tersebut adalah sampah antariksa dari roket rombeng milik Tiongkok.

Roket tersebut sudah berada di langit selama kurang lebih 14 bulan, sebelum akhirnya jatuh ke bumi.

Baca Juga:Momen Langka! Astronaut Artemis II Selfie dengan Bumi Pakai Kamera Depan iPhone 17 Pro MaxDuduk Perkara Warga Puri Cirebon Lestari Protes dan Minta Tutup TPS Kecomberan

Sampah antariksa itu, jatuh pada Sabtu malam 4 April 2026 TU sekitar pukul 19.53 WIB. Karenanya, dipastikan bahwa kilatan cahaya dengan percikan api itu bukanlah rudal, meski datang dari barat laut.

“Pengecekan terhadap basisdata SpaceTrack yang digunakan SatFlare menunjukkan, untuk waktu dan lokasi yang dimaksud ada satu sampah antariksa yang cocok: obyek 62805. Yakni roket rombeng milik Tiongkok yg sudah berada di langit selama 14 bulan,” demikian penjelasan Marufin Sudibyo dari The Ekliptika Institute, dikutip radarcirebon.id, Senin, 6, April 2026.

Obyek 62805 semula merupakan tingkat ketiga (upperstage) dari roket Long March-3B/E atau ChangZeng (CZ)-3B/E. Tingkat ini punya panjang 13 m dg massa kering ~ 2 ton yang mampu mengangkut 18 ton bahan bakar dan pengoksid.

Upperstage ini bagian dari roket Long March-3B/E, roket sekali pakai dengan tiga tingkat yg mempunyai massa total 459 ton & tinggi 56 meter.

Dia mampu mengangkut 2 ton muatan menuju orbit geostasioner atau 11 ton muatan ke orbit rendah.

Pada 23 Januari 2025 TU, roket Long March-3B/E menjalani flight Y105 untuk meluncurkan satelit komunikasi militer TJS (Tongxin Jishu Shiyan) – 14 ke orbit geostasioner.

Upperstage dinyalakan setelah roket mencapai ketinggian 150 km, guna mendorong TJS-14 ke tujuan.

Baca Juga:Warga Puri Cirebon Lestari Protes, Sampah di TPS Kecomberan Tak Diangkut sejak LebaranFoto Bumi 2026 Berhasil Diabadikan Artemis II, Mendarat di Bulan 2028

Usai bertugas, upperstage ini berubah jadi sampah antariksa yg terus menerus bergesekan dengan molekul’ udara di bagian atas atmosfer.

Sehingga kecepatan dan ketinggiannya makin menurun. Setelah 14 bulan, maka ia jatuh kembali (reentry) ke Bumi.

“Kilatan cahaya tersebut dapat terekam cukup lama karena lintasannya dan kecepatannya lambat. Berbeda dengan meteor yang hanya akan terlihat 1 sampai 2 detik saja,” kata dia.

0 Komentar