Museum Cipari Diresmikan, Fadli Zon Dorong Transformasi Fungsi Museum

Museum Cipari
RUANG EDUKASI: Museum Cipari diresmikan dengan semangat baru—didorong jadi ruang edukasi interaktif agar sejarah lebih hidup dan dekat dengan generasi muda. Foto: Ist
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Museum tidak lagi bisa bertahan hanya sebagai tempat menyimpan benda bersejarah. Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, museum dituntut bertransformasi menjadi ruang hidup yang edukatif, interaktif, dan mampu menghadirkan pengalaman baru bagi pengunjung, terutama generasi muda.

Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meresmikan Museum Taman Purbakala Cipari.

Ia menilai perubahan paradigma pengelolaan museum menjadi kebutuhan mendesak agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan diminati masyarakat.

Baca Juga:Lucky Hakim Tuntut Perumdam Tirta Darma Ayu Perbaiki PelayananDPRD Kuningan Soroti Temuan BPK di Disdikbud, Nilai Miliaran Rupiah

Menurutnya, museum masa kini harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih mendalam, tidak sekadar menampilkan koleksi. Pendekatan edukatif yang dipadukan dengan teknologi dinilai menjadi kunci dalam menciptakan interaksi yang lebih menarik dan bermakna bagi pengunjung.

Fadli juga menyoroti pentingnya Situs Purbakala Cipari sebagai bukti nyata keberadaan peradaban kuno Nusantara, khususnya dari era megalitik dan neolitik. Situs ini telah lama menjadi objek penelitian sejak 1970-an dan menyimpan nilai historis yang tinggi.

Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki jejak peradaban panjang yang harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan. Karena itu, keberadaan situs seperti Cipari tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dioptimalkan sebagai sarana edukasi publik.

“Indonesia memiliki jejak peradaban yang sangat panjang. Situs seperti Cipari harus dijaga dan terus dikembangkan,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, mendorong transformasi museum melalui pemanfaatan teknologi digital, penguatan peran kurator dan edukator, serta integrasi dengan dunia pendidikan dan industri kreatif. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan museum sebagai pusat pembelajaran yang dinamis.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, Retno Raswanto, menjelaskan bahwa proses revitalisasi museum telah dilakukan sejak Desember 2025. Penataan ulang difokuskan pada ruang pamer agar lebih representatif dan mendukung fungsi edukasi.

Ia berharap ke depan museum ini dapat menjadi ruang belajar aktif, khususnya bagi kalangan pelajar yang ingin mengenal sejarah secara lebih kontekstual.

Baca Juga:Pengawasan di Ciawigebang, Anggota DPRD Jabar Soroti Dampak Anggaran Kopdes pada Infrastruktur DesaPeran Baru Calvin Verdonk Jadi Sorotan di Laga Timnas Indonesia vs Bulgaria

“Ke depan, museum ini diharapkan menjadi ruang belajar aktif, khususnya bagi pelajar,” katanya.

Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, menyebut peresmian ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat posisi daerahnya sebagai wilayah dengan kekayaan sejarah dan potensi wisata budaya.

0 Komentar