Bahas Pembongkaran Rel Kereta Api Kalibaru, KAI Sebut Permintaan Pemkot, TACB Soroti Nilai Sejarah

KAI Sebut Permintaan Pemkot, TACB Soroti Nilai Sejarah
DISKUSI: Pertemuan membahas polemik pembongkaran jembatan rel kereta api Kalibaru, Selasa malam (7/4/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Dari sisi teknis, lanjut Sigit, kondisi jembatan rel tersebut dinilai sudah tidak ideal. Struktur jembatan berada cukup rendah terhadap permukaan air sungai. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat aliran air, terutama saat debit sungai meningkat.

Selain itu, bagian bawah jembatan kerap menjadi tempat tersangkutnya sampah yang terbawa arus sungai. Penumpukan sampah di bawah struktur jembatan dinilai dapat memperparah risiko banjir. Karena itu pembongkaran dianggap sebagai salah satu langkah untuk mendukung penataan kawasan sungai. Meski demikian, Sigit mengakui polemik yang muncul menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak.

Ia menegaskan pentingnya koordinasi yang lebih baik ke depan, terutama terkait objek yang memiliki nilai sejarah. Menurutnya, berdasarkan pencatatan yang ada, jembatan rel tersebut belum tercatat sebagai cagar budaya. Namun polemik yang terjadi menunjukkan pentingnya proses pendataan dan penetapan yang lebih jelas terhadap objek bersejarah. “Dari sisi pencatatan, jembatan tersebut memang belum terdaftar sebagai cagar budaya,” katanya.

Baca Juga:Jembatan Rel Kalibaru Dibongkar, Pekerjaan Terhenti, Sisa Material Masih Tenggelam di SungaiPenerapan Sekolah Lima Hari Sekolah di Kota Cirebon, Jadwal Dirombak, Anak Makan Siang di Sekolah

Sigit juga memastikan bahwa material hasil pembongkaran tidak hilang begitu saja. Seluruh material besi dari jembatan rel tersebut tetap diamankan oleh pihak PT KAI. Material tersebut tercatat sebagai aset negara.

Menurutnya, material tersebut masih memiliki kemungkinan untuk dimanfaatkan kembali. Salah satunya melalui proses restorasi atau pemanfaatan dalam bentuk lain yang berkaitan dengan sejarah perkeretaapian.

Sementara itu, kalangan peneliti juga menyoroti pentingnya pelestarian jejak sejarah kota. Perwakilan lembaga riset, Endang Kusumasari, menyebut jalur rel yang dibongkar memiliki nilai historis penting. Menurutnya, jalur tersebut dahulu menjadi bagian dari sistem perdagangan di Cirebon.

Pada masa lalu, Cirebon dikenal sebagai salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Pelabuhan tersebut menjadi pintu keluar berbagai komoditas dari wilayah Jawa Barat bagian timur. Rel kereta api menjadi penghubung antara kawasan produksi dengan pelabuhan. “Rel itu bagian dari sejarah perdagangan Cirebon yang dulu pernah menjadi pusat ekspor komoditas seperti kapas dan minyak nabati,” kata Endang.

Ia menilai jejak infrastruktur lama seperti rel kereta memiliki nilai penting bagi sejarah kota. Karena itu, menurutnya, setiap objek sejarah sebaiknya didokumentasikan dengan baik. Endang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan komunitas riset. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pembangunan kota tetap berjalan tanpa menghilangkan identitas sejarahnya.

0 Komentar