Bahas Pembongkaran Rel Kereta Api Kalibaru, KAI Sebut Permintaan Pemkot, TACB Soroti Nilai Sejarah

KAI Sebut Permintaan Pemkot, TACB Soroti Nilai Sejarah
DISKUSI: Pertemuan membahas polemik pembongkaran jembatan rel kereta api Kalibaru, Selasa malam (7/4/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Menurutnya, data sejarah dan bukti fisik yang masih tersisa perlu dijaga. Tanpa dokumentasi dan pelestarian, jejak sejarah berpotensi hilang.

Jika itu terjadi, sejarah kota hanya akan tersisa dalam cerita tanpa bukti fisik.

Masih pada kesempatan yang sama, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Cirebon menilai, struktur kecil seperti jembatan eks rel kereta api di kawasan Kalibaru tetap memiliki potensi nilai sejarah yang penting. Karena itu, proses pembongkaran seharusnya melalui kajian dan komunikasi lintas pihak.

Baca Juga:Jembatan Rel Kalibaru Dibongkar, Pekerjaan Terhenti, Sisa Material Masih Tenggelam di SungaiPenerapan Sekolah Lima Hari Sekolah di Kota Cirebon, Jadwal Dirombak, Anak Makan Siang di Sekolah

Ketua TACB Kota Cirebon Panji Amiarsa mengatakan pemahaman mengenai cagar budaya sering kali keliru. Banyak orang beranggapan bahwa cagar budaya selalu berupa bangunan besar atau monumental. Padahal, struktur kecil sekalipun bisa memiliki nilai sejarah tinggi.

Ia mencontohkan jembatan rel kereta api yang berada di kawasan Kalibaru. Meskipun tidak berukuran besar, struktur tersebut tetap dapat memiliki nilai penting dalam sejarah perkembangan transportasi maupun perdagangan kota.

“Cagar budaya itu tidak selalu harus berupa gedung yang masif dan besar. Struktur kecil pun bisa menjadi cagar budaya. Salah satunya jembatan kereta api,” ujarnya usai pertemuan evaluasi yang digelar bersama sejumlah pemangku kepentingan itu.

Panji mengatakan, dalam konteks pelestarian sejarah, yang terpenting bukan sekadar ukuran fisik, tetapi nilai yang melekat pada objek tersebut. Nilai itu bisa berupa fungsi historis, keterkaitan dengan perkembangan kota, maupun hubungan dengan jaringan transportasi masa lalu.

Ia menilai polemik yang muncul saat ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak. Terutama dalam memastikan proses pengambilan keputusan yang menyangkut objek bersejarah dilakukan secara hati-hati.

Salah satu hal yang disoroti adalah minimnya komunikasi sebelum pembongkaran dilakukan. Menurut Panji, koordinasi lintas lembaga menjadi kunci agar kebijakan teknis di lapangan tetap memperhatikan aspek sejarah.

Ia menegaskan, langkah teknis seperti pembongkaran atau perubahan struktur seharusnya melibatkan tim ahli sejak awal. “Langkah teknis di lapangan seharusnya melibatkan tim ahli agar nilai sejarah tetap terjaga,” katanya.

Baca Juga:Calon Tersangka Dijadwal Kamis, Kasus Kredit Macet Perumda BPR Bank CirebonAset Bank Cirebon Masih Dihitung Tim Likuidasi 

Menurut Panji, keterlibatan tim ahli penting untuk memberikan kajian awal. Termasuk menentukan apakah sebuah objek memiliki potensi sebagai cagar budaya atau tidak. Kajian tersebut juga bisa menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan. Dengan begitu, pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan nilai sejarah.

0 Komentar