Ia juga berharap komunikasi antara pemerintah daerah dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) dapat diperkuat ke depan. Ia menilai polemik ini terjadi salah satunya karena koordinasi yang belum optimal. “Ke depan kami berharap komunikasi antara PT KAI dengan Pemerintah Kota bisa lebih intensif lagi. Supaya kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujarnya.
Polemik pembongkaran jembatan rel Kalibaru memang memicu reaksi luas di masyarakat. Sejak informasi tersebut beredar di media sosial dan media massa, berbagai komentar muncul dari kalangan budayawan, pegiat sejarah, hingga masyarakat umum.
Panji mengakui respons masyarakat cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa warga Cirebon memiliki perhatian besar terhadap sejarah kotanya. Menurut dia, keberadaan simbol atau jejak sejarah memiliki arti penting bagi identitas kota. “Jujur saja, masyarakat Cirebon itu sangat peduli dengan sejarahnya. Begitu ada satu ikon sejarah yang hilang atau berubah, reaksinya luar biasa,” ujarnya.
Baca Juga:Jembatan Rel Kalibaru Dibongkar, Pekerjaan Terhenti, Sisa Material Masih Tenggelam di SungaiPenerapan Sekolah Lima Hari Sekolah di Kota Cirebon, Jadwal Dirombak, Anak Makan Siang di Sekolah
Panji mengatakan kepedulian tersebut merupakan hal positif. Namun, ia berharap polemik ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat sistem inventarisasi dan perlindungan benda bersejarah. Inventarisasi tersebut penting agar objek yang memiliki potensi nilai sejarah dapat didata lebih awal. Dengan demikian, setiap rencana pembangunan bisa mempertimbangkan keberadaan objek tersebut. (*)
