Italia dan Luka yang Belum Sembuh: Saat Tradisi Besar Bertemu Krisis Panjang

Timnas Italia
SAATNYA BANGKIT: Para pemain Timnas Italia saat dikalahkan Bosnia Herzegovina pada babak playoff kualifikasi Piala Dunia 2026, beberapa hari lalu. Foto: FIFA.COM
0 Komentar

SEPAK bola Italia kembali berada di titik terendahnya. Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Timnas Italia dipastikan gagal tampil di ajang Piala Dunia FIFA. Sebuah kenyataan pahit bagi negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.

Di negeri yang identik dengan pizza dan sejarah panjang olahraga, kegagalan ini terasa seperti ironi. Italia bukan tim sembarangan. Mereka pernah mengangkat trofi Piala Dunia sebanyak empat kali, serta dua kali menjuarai Piala Eropa UEFA. Nama besar mereka begitu lekat dengan kejayaan masa lalu.

Namun jika menengok ke belakang, ada pola yang mencemaskan. Kemenangan terakhir Italia di fase gugur Piala Dunia terjadi pada final Piala Dunia FIFA 2006, saat mereka keluar sebagai juara. Setelah itu, perjalanan mereka justru meredup. Italia tersingkir di fase grup pada edisi 2010 dan 2014, sebelum akhirnya absen total dari turnamen pada edisi-edisi berikutnya.

Baca Juga:H Surya Resmi Dilantik Jadi Ketua DPD PAN IndramayuMenang 2-1, Bayern Munchen Raih Kemenangan Penting di Markas Real Madrid

Kegagalan menuju Piala Dunia 2026 pun memicu banyak refleksi. Berbagai pihak mulai mempertanyakan arah pembinaan sepak bola Italia, termasuk Luciano Spalletti, sosok yang pernah menangani tim nasional pada periode 2023 hingga 2025.

Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari L’Equipe, Spalletti melontarkan gagasan yang terbilang berani, bahkan ekstrem. Ia mengusulkan agar setiap klub Serie A diwajibkan memainkan setidaknya satu pemain berusia di bawah 19 tahun dalam setiap pertandingan.

Menurutnya, langkah tersebut dapat memaksa klub untuk memberi ruang bagi talenta muda berkembang.

“Kita harus membangun pemain dari dalam. Jika setiap tim wajib menurunkan pemain U-19, maka akan ada puluhan pemain muda yang mendapat kesempatan. Ini bisa memperkuat fondasi tim nasional,” ujarnya.

Gagasan itu mungkin terdengar radikal. Namun jika melihat kondisi saat ini, ide tersebut tidak sepenuhnya tanpa dasar. Di level usia muda, Italia justru menunjukkan performa yang menjanjikan. Tim U-19 berhasil menjuarai Piala Eropa U-19 pada 2023, sementara tim U-17 mengikuti jejak tersebut dengan menjadi juara pada 2024.

Kontras ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa talenta muda yang bersinar tidak mampu berlanjut di level senior? Di sinilah akar persoalan Italia tampak. Bukan pada ketiadaan bakat, melainkan pada jalur transisi yang tersendat. Banyak pemain muda yang gagal mendapatkan kesempatan bermain reguler di level tertinggi, sehingga perkembangan mereka terhenti sebelum benar-benar matang.

0 Komentar