Inspirasi Bike to Work dari Dokter Arie Suseno, Sejak 2022, Tiap Hari Gowes Pulang Pergi Talun-Pangenan

Inspirasi Bike to Work dari Dokter Arie Suseno
BIKE TO WORK: Dokter Arie Suseno menerapkan bike to work pulang pergi setiap hari dari Talun ke UPTD Puskesamas Pangenan. Foto: Dokumen Pribadi
0 Komentar

“Spare waktu juga bermanfaat untuk kita mengganti pakaian dan mandi sejenak saat sampai di tempat kerja, karena dipastikan saat sampai berkeringat,” terangnya.

Dengan konsisten menerapkan bike to work sebagai gaya hidup, banyak sekali manfaat yang dirasakan. Misalnya, bebas stres dan macet. Saat naik sepeda, ia bisa selap-selip di kepadatan lalu lintas atau lewat jalur pintas yang tidak bisa dilalui mobil, sehingga waktu tempuh lebih terprediksi.

Tentu, dengan bike to work juga bisa menghemat kantong karena tidak perlu pusing memikirkan biaya bensin yang naik, tarif parkir harian, atau biaya servis mesin yang mahal. Parkir juga lebih mudah. Tidak perlu repot cari slot parker karena sepeda bisa diparkir di tempat yang sangat terbatas atau bahkan dibawa masuk ke ruangan jika diizinkan.

Baca Juga:Cara Baru ASN Kota Cirebon Berangkat Kerja, Dari Sepeda hingga Lari; Cepat Tiba dan Lebih SehatWFH bagi ASN Diterapkan Hari Ini, Termasuk di Cirebon

Dengan bike to work, tubuh tetap bugar tanpa harus meluangkan waktu khusus ke gym. Ini efektif untuk membakar kalori dan menguatkan jantung setiap hari. Salah satu yang paling penting, bersepeda di pagi hari melepaskan hormon endorfin yang dapat membuat lebih semangat dan fokus saat sampai di kantor. “Bike to work juga jadi kontribusi nyata kita untuk mengurangi polusi udara dan kebisingan di kota,” terangnya.

Banyak sekali pengalaman yang tak terlupakan saat menerapakan gaya hidup ini. Terutama saat perjalanan pulang. Perjalanan pulang biasanya dilakukan di atas 19.00 WIB. Pengalaman tak terlulakan pernah dilaluinya seperti lampu sepeda yang lupa di-charge sehingga sepanjang perjalanan sampai rumah hanya mengandalkan cahaya bulan. Jalanan berlubang pun pernah meninggalkan cerita saat perjalanan ke rumahnya di Talun.

Karena menabrak lubang, sepeda pun bocor tepat di depan rel kereta api. Mengganti ban bukan menjadi hal sulit bagi Dokter Arie. Namun malam itu rasanya begitu berat, tak fokus bercampur paranoid lantaran di hari sebelumnya ia membaca berita orang tertemper di rel kereta api tersebut. “Saya buru-buru kaeena sudah jam 21.00, parno,” katanya.

Lanjutnya, kendala teknis saat perjalanan ke rumah juga pernah ia alami ketika sistem penggerak sepeda patah. Ini membuat sepedanya tak bisa dikendarai. “Untung ada mobil kolbak, akhirnya saya diantar sampai rumah,” ucapnya.

0 Komentar