RADARCIREBON.ID – Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu) retak di Kilometer 207 A arah Bandung akibat hujan yang terus menerus turun dalam beberapa hari terakhir.
Ruas Jalan Tol Cisumdawu di Km 207 A memang dikenal rawan longsor. Selama pembangunan tol berlangsung wilayah Gunung Puyuh, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang tersebut juga pernah mengalami pergerakan tanah.
Pantauan radarcirebon.id ruas jalan yang retak mencapai panjang 80 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter pada sisi terdalam.
Baca Juga:Canggih! Iran Gunakan Pembayaran Bitcoin untuk Tarif Lewat Selat Hormuz, Cegah TerlacakLewat Selat Hormuz, Iran Terapkan Tarif, Bayar Pakai Bitcoin, Percepat De-Dolarisasi?
Dugaan sementara, terjadi kesalahan pada sistem drainase yang menyebabkan jalan ambles dan pada bagian permukaan terlihat retak.
Wilayah ini, menggunakan struktur embankment atau tanah urugan yang dijadikan fondasi jalan.
Sebagai antisipasi dan untuk keselamatan pengendara, saat ini PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) sesuai diskresi kepolisian, memberlakukan contra flow di KM 207 A.
Direktur Utama PT CKJT, Agustinus Sudrajat mengatakan, selaku operator Tol Cisumdawu atas diskresi Kepolisian, main road KM 194 A di lakukan penutupan dan pengalihan kendaraan dari Bandung menuju Cirebon untuk dapat keluar di Gerbang Tol Paseh.
Selain itu juga akan dilakukan contra flow Jalur B (Arah ke Bandung) dari KM 206+125 sampai dengan KM 208+200.
Walaupun demikian, Agustinus mengatakan ruas Tol Cisumdawu KM 207 A saat ini masih dalam kondisi aman dan laik dilalui, menyusul kejadian retak sliding pada KM 207+300 sampai dengan KM 207+400.
Selain rekayasa, penanganan jangka pendek yang dilakukan diantaranya dengan pemasangan rambu peringatan dan pengurang kecepatan, serta pengisian retakan dengan material aspal dan penutupan dengan terpal supaya air tidak masuk menambah beban pada timbunan.
Baca Juga:Geger Meteor di Lampung, Kilatan Cahaya Ternyata Sampah AntariksaMomen Langka! Astronaut Artemis II Selfie dengan Bumi Pakai Kamera Depan iPhone 17 Pro Max
Untuk penanganan jangka panjang, pihak PT CKJT melakukan tahapan pengukuran topografi untuk memastikan lebar dan panjang penanganan, penyelidikan tanah tambahan untuk identifikasi pelapisan tanah, pengukuran instrumentasi inklinometer untuk memastikan kedalaman bidang longsoran, analisa geoteknik untuk penentuan tipe perkuatan untuk penahan longsoran.
“Penanganan jangka panjang juga direncanakan menggunakan bore pile dengan kedalaman sekitar 30 meter, sepanjang kurang lebih 100 meter. Seluruh proses evaluasi dan perbaikan dilakukan sesuai dengan standar teknis dan prosedur keselamatan yang berlaku,” katanya.
