Terapi Tradisional Tiongkok di Vihara Dharma Sukha Diminati, Kombinasi Totok Saraf dan Energi

Terapi Tradisional Tiongkok di Vihara Dharma Sukha Diminati
BEROBAT: Layanan pengobatan alternatif dengan metode tradisional Tiongkok di Vihara Dharmasuka di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, kemarin, dimanfaatkan ratusan warga dari berbagai daerah. Foto: Khoirul Anwarudin/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Layanan pengobatan alternatif dengan metode tradisional Tiongkok di Vihara Dharmasuka di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, dimanfaatkan ratusan warga dari berbagai daerah. Selain karena penasaran dengan metode terapi, faktor biaya sukarela menjadi daya tarik utama kegiatan tersebut.

Bakti sosial yang merupakan bagian dari Tour Java Ke-2 Tahun 2026 ini mulai digelar sejak Minggu (12/4/2026) dan dijadwalkan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Salah satu tabib, Dodi, menyebutkan kegiatan ini menyasar masyarakat luas, khususnya yang membutuhkan pengobatan namun terkendala biaya.

Dodi mengatakan taka da tarif khusus. “Jadi di sini tidak ada tarif khusus. Warga bebas memberikan seikhlasnya. Itu yang membuat banyak masyarakat tertarik untuk mencoba,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Baca Juga:Penyerahan Denda Administratif Mencapai Rp11,4 Triliun, Bisa Renovasi 43 Ribu SekolahWFH Diterapkan, WFO Tetap Dijaga, Pertama Diterapkan, 763 ASN Pemkot Cirebon Kerja dari Rumah

Terapi yang diberikan mengombinasikan teknik totok saraf dengan pendekatan energi. Metode tersebut diklaim membantu berbagai keluhan, terutama yang berkaitan dengan saraf dan pergerakan tubuh. Cirebon sendiri menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian kegiatan di Jawa Barat, setelah sebelumnya tim menyambangi Karawang dan Cikarang. Selanjutnya, kegiatan akan berlanjut ke wilayah Ciledug dan sekitarnya.

Ketua Yayasan Vihara Dharmasuka, Kusnadi, mengatakan tingginya partisipasi warga terlihat dari jumlah pasien yang terus bertambah setiap hari. Bahkan, banyak peserta datang dari luar daerah. “Ada yang dari Kuningan, Indramayu, Gebang, Pabuaran, termasuk dari Kota Cirebon. Totalnya sudah ratusan orang,” katanya.

Kusnadi menambahkan, antusiasme warga juga dipicu oleh sejumlah testimoni pasien yang mengaku merasakan perubahan setelah menjalani terapi, meskipun untuk kasus tertentu masih membutuhkan proses bertahap.

“Beberapa ada yang sebelumnya mengalami gangguan saraf, setelah terapi mulai ada perkembangan. Memang tidak instan, tapi ada perubahan yang dirasakan,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi layanan kesehatan alternatif, tetapi juga bentuk kepedulian sosial lintas daerah. Dengan tingginya minat warga, pihak yayasan membuka kemungkinan kegiatan serupa akan kembali digelar di waktu mendatang, terutama jika melihat kebutuhan masyarakat yang masih cukup besar terhadap layanan pengobatan terjangkau. “Yang penting masyarakat merasa terbantu. Kami hanya memfasilitasi tempat dan koordinasi,” ucapnya. (*)

0 Komentar