Kondisi kemarau juga membuat ukuran daun jati yang diperoleh Samiri saat ini cenderung lebih kecil. Menurut dia, banyak daun jati yang rontok sehingga daun yang tersisa atau tumbuh baru ukurannya tidak sebesar biasanya. “Ya mungkin karena lagi kemarau, daunnya kan biasanya pada rontok, ukurannya kecil-kecil,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Meski sejauh ini masih bisa memperoleh daun jati, Samiri tetap memastikan bahan pembungkus tersebut selalu tersedia untuk dagangannya. Sebab, bagi dirinya, mengganti daun jati dengan pembungkus lain bukan sekadar mengubah tampilan nasi, tetapi juga dapat menghilangkan salah satu ciri khas yang melekat pada nasi jamblang.
Hal serupa dirasakan Umi, penjual nasi jamblang lainnya. Untuk menyiasati keterbatasan daun jati, ia terkadang menjadikan daun hanya sebagai alas, sementara nasi diambil langsung dari termos.
Baca Juga:Tagihan Melonjak, Dirut PDAM Berdalih Cuma Penyesuaian Tarif, Beri Penjelasan setelah Adanya Keluhan Warga GSPGobar 235 Kilometer Cirebon-Semarang, Long Ride Seru Lintas Provinsi, Finish di Simpang Lima
Namun, cara tersebut terkadang mendapat protes dari pembeli. Umi mengatakan sebagian pelanggan menilai nasi jamblang yang dibungkus daun jati dan yang tidak dibungkus memiliki rasa serta tekstur yang berbeda. “Kalau tidak dibungkus daun jati, kadang pembeli protes. Katanya nasi jamblang yang dibungkus daun jati dan yang tidak itu rasanya beda,” ujar Umi. (*)
