Kemarau Panjang Menguji Tradisi Nasi Jamblang, Daun Jati Makin Sulit Dicari, tapi Tak Bisa Diganti Pembungkus

Nasi Jamblang
IDENTITAS: Samiri, nenek penjual nasi jamblang di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. Belakangan ini ia kesulitan mendapatkan daun jati yang merupakan bagian penting dari identitas nasi jamblang. Foto: Khoirul Anwarudin/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBPN.ID- Musim kemarau panjang mulai mengancam salah satu identitas kuliner khas Cirebon, yakni daun jati yang menjadi pembungkus nasi jamblang. Ketersediaan daun jati saat ini lebih sulit dibandingkan kondisi normal, sementara keberadaannya dianggap tidak bisa dipisahkan dari nasi jamblang.

Tanpa daun jati, nasi jamblang seolah kehilangan identitasnya. Itu kata Samiri (68), nenek penjual nasi jamblang di Kecamatan Jamblang. Sudah lebih dari 50 tahun ia berjualan.

Kata Samiri, daun jati merupakan bagian penting dari identitas nasi jamblang. Bahkan, menurutnya, sebagian pembeli tidak mau membeli jika tidak mendapatkan bungkus daun jati. “Daun jati itu harus ada. Tanpa daun jati, nasi jamblang seolah kehilangan identitasnya. Kadang pembeli juga tidak mau kalau beli tapi tidak ada bungkus daun jatinya,” ujar Samiri.

Baca Juga:Tagihan Melonjak, Dirut PDAM Berdalih Cuma Penyesuaian Tarif, Beri Penjelasan setelah Adanya Keluhan Warga GSPGobar 235 Kilometer Cirebon-Semarang, Long Ride Seru Lintas Provinsi, Finish di Simpang Lima

Ia mengatakan, kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini membuat daun jati memang lebih sulit dicari. Meski begitu, hingga sekarang dirinya masih bisa mendapatkan daun jati untuk kebutuhan berjualan nasi jamblang.

Biasanya, Samiri membeli daun jati dari pedagang di Pasar Jamblang. Harganya sekitar Rp10 ribu untuk 10 ikat, dengan masing-masing ikat berisi sekitar lima sampai tujuh lembar daun. Daun-daun tersebut diperoleh para pencari yang mengambil langsung dari kawasan hutan jati di sejumlah wilayah, termasuk Sumedang. Daun kemudian dibawa dan dijual kepada pedagang di Pasar Jamblang.

Menurut Samiri, mendapatkan daun jati tidak selalu mudah. Ia biasanya mengandalkan pedagang langganan. Karena jika membeli dalam jumlah sedikit kepada pedagang lain, belum tentu mendapatkan daun yang dibutuhkan. “Kalau saya pokoknya daun jati itu harus ada. Kadang kalau tidak beli di langganan, tidak bisa dapat, apalagi belinya sedikit. Jadi ya bisa-bisanya kita aja sama penjual,” katanya.

Ketika tidak mendapatkan pasokan dari pedagang, Samiri terkadang meminta daun jati kepada pemilik pohon jati di sekitar wilayah Jamblang. Namun, tidak semua daun jati bisa digunakan sebagai pembungkus nasi jamblang karena harus memiliki karakter yang sesuai.

Daun yang digunakan harus cukup lentur dan tidak terlalu keras agar dapat dilipat tanpa mudah robek. Menurut Samiri, ada daun jati yang berukuran lebar, tetapi justru sulit ditekuk dan mudah sobek ketika digunakan untuk membungkus nasi. “Kan ada juga yang daunnya lebar-lebar, tapi tidak bisa ditekuk. Kalau ditekuk-tekuk justru sobek. Jadi daun jati yang dipakai juga harus yang tidak keras,” jelasnya.

0 Komentar