Panitia juga menyiapkan ruang edukasi bagi siswa sekolah di Kabupaten Cirebon yang ingin mengenal keris lebih jauh.
Kampus-kampus di wilayah Cirebon turut diundang agar mahasiswa dapat hadir dan mempelajari nilai sejarah, seni, serta filosofi di balik warisan tosan aji.
Langkah ini menjadi penting. Sebab, pelestarian budaya akan sulit berjalan jika generasi muda hanya diminta menghormati warisan leluhur tanpa diberi kesempatan untuk mengenal dan memahaminya secara langsung.
Baca Juga:Pengurus DPC PKB Kota Cirebon Dikukuhkan, Farida Tegaskan Kredo Peduli Umat Melayani RakyatHingga Oktober Baru Satu Paket, Rp3,68 Miliar untuk 28 Paket Perbaikan Jalan Lingkungan
“Keris pun bisa menjadi pintu masuk untuk mempelajari sejarah, teknologi tradisional, seni tempa, hingga nilai-nilai yang hidup dalam kebudayaan masyarakat,” imbuhnya.
Kabar baiknya, pameran yang berlangsung selama tiga hari tersebut terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dipungut biaya masuk.
Dengan akses gratis, panitia berharap kegiatan ini dapat menjangkau lebih banyak kalangan, mulai dari pencinta keris, pegiat budaya, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat yang sekadar ingin tahu lebih dekat tentang warisan pusaka nusantara.
“Pada akhirnya, Gugah Gaman Cirebon bukan semata-mata soal keris yang dipajang atau pusaka yang dikagumi. Ada pesan yang lebih besar: kebudayaan tidak akan tetap hidup jika hanya disimpan, tetapi harus terus diperkenalkan dan diwariskan,” pungkasnya. (sam)
