Sekitar pukul 10.00 WIB pada Jumat, 23 Oktober 2026, ketika api di sekitar lokasi dinilai sudah terlokalisasi, para relawan berdiskusi mengenai langkah berikutnya. Mereka menyadari anak surili tersebut merupakan satwa dilindungi dan tidak bisa sembarangan dibawa pulang untuk dipelihara. Pilihan yang dianggap paling tepat adalah mencari induknya.
Dodo bersama rekan-rekannya kemudian bergerak ke arah selatan. Setelah berjalan sekitar 300 hingga 500 meter, mereka melihat sekelompok surili yang diduga merupakan keluarga satwa tersebut. Rombongan mendekat secara hati-hati sambil memperlihatkan anak surili yang mereka selamatkan.
“Induknya terlihat mendekat, tetapi masih takut kepada kami. Akhirnya, anak surili itu kami letakkan di tanah, lalu kami menjauh dan bersembunyi. Alhamdulillah, induknya turun dan langsung menggendong anaknya,” kata Dodo.
Baca Juga:Aktivitas MPP Masih Sepi, Pelayanan Didominasi AdmindukYayasan GSN Salurkan 200 Becak Listrik dari Prabowo, Upayakan BPJS bagi Pengemudi
Bagi para relawan, keberhasilan mempertemukan kembali anak surili dengan induknya menjadi pengalaman berharga di tengah beratnya perjuangan menghadapi karhutla. Selama beberapa hari, mereka harus berjibaku di medan terjal, menghadapi kobaran api, serta menempuh perjalanan panjang demi mencegah kebakaran meluas ke kawasan hutan alam.
Dodo berharap penanganan karhutla di Gunung Ciremai segera tuntas sehingga ekosistem hutan dan satwa liar di dalamnya dapat kembali aman. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran, sembari berharap tidak ada lagi kejadian serupa yang mengancam kelestarian kawasan konservasi tersebut. (bud)
