Dampak penguatan perkebunan turut dirasakan oleh sekitar 18 juta kepala keluarga (KK) pekebun yang mengelola lahan seluas 29 juta hektare. Peningkatan kesejahteraan pekebun tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) Perkebunan pada September 2026 yang meningkat 7,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Provinsi Bengkulu mencatat indeks NTP tertinggi nasional sebesar 231,6.
Lebih lanjut, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, mengatakan penguatan kinerja perkebunan selama dua tahun terakhir perlu ditopang oleh peningkatan produktivitas dari hulu, agar manfaat ekonomi dapat menjangkau pekebun sekaligus memenuhi kebutuhan industri hilir. “Penguatan perkebunan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan baku untuk mendukung hilirisasi. Karena itu, peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, perbaikan kualitas hasil, dan penguatan kelembagaan pekebun menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan,” ungkapnya.
Heru menambahkan, optimalisasi lahan perkebunan melalui pola tumpang sari dengan tanaman pangan dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung ketersediaan pangan, meningkatkan pemanfaatan lahan, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan pekebun.
Baca Juga:60 Hektare Lahan Kawasan Ciremai Terdampak KebakaranSekolah Kaji Kelanjutan MBG, Mahasiswa Kembali Demo di DPRD Kota Cirebon
Dalam melanjutkan penguatan sektor perkebunan, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memprioritaskan peningkatan produksi dan produktivitas komoditas strategis, pengembangan tebu untuk mendukung swasembada gula, serta penguatan pasokan bahan baku bagi industri hilir.
Upaya ini diharapkan memperkokoh kontribusi perkebunan terhadap perekonomian nasional, memperluas nilai tambah di dalam negeri, dan menjaga kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan. (rc)
