RADARCIREBON.ID- SDN Taman Kalijaga Permai, Kota Cirebon, belum memutuskan kelanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah puluhan siswa dan guru terdampak dugaan keracunan. Sekolah masih perlu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, orang tua siswa, dan pemerintah daerah sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Kepala SDN Taman Kalijaga Permai, Fauziyah Hayati Fazrin mengatakan pemulihan siswa menjadi prioritas saat ini. Evaluasi kelanjutan program MBG akan dilakukan setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.
Keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama. Sekolah tidak ingin gegabah mengambil keputusan di tengah penanganan kasus yang masih berlangsung. “Fokus dulu untuk kesembuhan anak-anak. Ke depan, saya pasti mengutamakan keselamatan, keamanan, dan kesehatan anak-anak,” kata Fauziyah, Jumat (23/10/2026).
Baca Juga:Fahmi Ummi Perluas Peran Muslimah Harus Cerdas, Mandiri, Kritis, dan BerdayaMemburu Sisa Aset di Balik Kredit Fiktif BPR Karya Remaja Indramayu, Kejaksaan Serahkan Uang Hasil Sitaan
Berdasarkan pendataan sekolah hingga Kamis (22/10/2026), sebanyak 60 siswa dan tujuh guru terdampak. Jumlah itu berasal dari total 570 siswa yang bersekolah di sana. Sekolah juga menyesuaikan kegiatan belajar di tengah penanganan kasus. Pada Kamis, jam pulang siswa kelas III hingga VI dimajukan dari pukul 13.30 menjadi pukul 11.00.
Pada hari yang sama, sekolah menggelar doa dan zikir rutin pagi. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ikhtiar bersama untuk mendoakan kesembuhan siswa dan guru yang terdampak.
SPPG TERANCAM TUTUP PERMANEN
Di sisi lain, Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Cirebon masih mengevaluasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga 5 yang terkait dengan kejadian tersebut. Operasional SPPG itu telah dihentikan sementara sejak Selasa malam hingga waktu yang belum ditentukan.
Kepala KPPG Cirebon, Yulian Septa Pratama mengatakan penghentian operasional dilakukan sambil menunggu hasil pemeriksaan dan uji laboratorium. “Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian ini. Hasilnya akan menjadi bahan evaluasi dan menentukan langkah selanjutnya,” kata Yulian.
Sampel yang diperiksa meliputi nasi, tempe, sayuran, dan air. Hasil laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua pekan. Yulian mengatakan, sanksi paling berat yang mungkin dijatuhkan adalah penutupan permanen SPPG. Namun, keputusan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan.
“Jika ditemukan pelanggaran, tentu akan ada evaluasi dan tindak lanjut sesuai hasil pemeriksaan. Untuk sanksi terberat, kemungkinan penutupan permanen, tetapi semuanya menunggu hasil investigasi,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
