30 Agustus Penobatan Sultan Sepuh XV

gubernur-melayat-sultan-sepuh-cirebon
Gubernur Jawa Barat saat takziah ke Keraton Kasepuhan Cirebon. Foto: Okri Riyana/Radar Cirebon
0 Komentar

CIREBON – Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin akan dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV. Prosesi penobatan atau jumenengan akan dilaksanakan pada Minggu (30/8) pekan depan. Atau tepat 40 hari setelah meninggalnya Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat.
Kepastian dilaksanakannya prosesi jumenengan tersebut, dikonfirmasi langsung oleh adik kandung Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadingrat, yakni Ratu Raja (RR) Alexandra Wuryaningrat. Bahkan undangan untuk prosesi tersebut juga sudah disebarkan. Rencananya, prosesi akan dilaksanakan di Bangsal Prabayaksa mulai pukul 13.00 WIB.
“Prosesi upacaranya seperti tradisi-tradisi sebelumnya. Tapi ya ada sekalian doa tahlil untuk almarhum (Sultan Sepuh XIV),” ungkapnya, kemarin.
Ratu Alexandra mengatakan, prosesi jumenengan rencananya hanya akan digelar secara sederhana. Namun demikian, akan banyak pejabat dari pemerintah dan aparat yang diundang. Termasuk juga para wargi dan keluarga besar Keraton Kasepuhan.
“Kita undang semuanya seperti raja keraton se-nusantara. Termasuk juga dari pemerintahan. Seperti presiden, wapres dan gubernur, serta muspida. Tapi belum ada konfirmasi kehadiran,” ungkapnya.
Dia berharap, dengan adanya pengganti sultan sepuh XIV, maka kepemimpinan di Keraton Kasepuhan kembali berjalan efektif. Ia juga meminta doa dan dukungan dari wargi dan juga famili Keraton Kasepuhan terhadap kelancaran acara tersebut.
“Kita sama-sama mendoakan, apa yang sudah menjadi amanah. Ini kan apa yang sudah menjadi adat tradisi turun-temurun,” pungkasnya.
Sementara, geger masalah takhta Keraton Kasepuhan, telah menjadi perhatian banyak pihak. Tak saja karena menyangkut perdebatan siapa yang paling berhak atas takhta Keraton Kasepuhan pasca meninggalnya Sultan Sepuh XIV. Namun juga menyangkut warisan dari Syekh Syarif Hidayatulaah atau Sunan Gunung Jati dan juga kebenaran sejarah yang perlu untuk diluruskan.
Demikian diungkapkan oleh Sekretaris PCNU Kota Cirebon, Bambang Wirawan. Menurutnya, permasalahan tersebut tak boleh dianggap sepele. Pihaknya khawatir, konflik yang terjadi akan menimbulkan konfrontasi terbuka antara masing-masing pihak. Yang tentunya akan turut mengganggu kondusivitas di Kota Cirebon.
“Pemerintah harus memiliki political will demi marwah Kesultanan Cirebon, warisan Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati,” ungkapnya.
Menurut Bambang, gonjang ganjing di Keraton Kasepuhan itu, betapa pun akan berpengaruh pada kondusivitas Kota Cirebon. Untuk meredakan konflik yang terjadi, maka menurutnya, juga diperlukan sebuah Dewan Adat.

0 Komentar