Angkutan Desa Makin Termakan Zaman

ilmi-angkutan desa (7)
SEMAKIN BERKURANG: Angkutan desa (Angdes) di Kabupaten Cirebon sudah semakin jarang dan minim penumpang. Itu seiring dengan banyaknya warga yang memilih membeli kendaraan bermotor atau menggunakan transportasi online. FOTO: ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON
0 Komentar

CIREBON
Angkutan umum kini tak lagi jadi primadona. Dengan beragam faktor, angkutan
desa yang memiliki trayek di Kabupaten Cirebon, sekarang jumlahnya tergerus dan
bisa dihitung jari.  

Kepala
Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon, Eko Nugroho
menuturkan, semakin majunya teknologi, membuat peminta angkutan umum berkurang.
Salah satunya, peminat masyarakat kabupaten untuk menggunakan angkutan umum
angdes ini, terus berkurang seiring dengan adanya transportasi online.
Kemudian, mereka juga mayoritas memilih membeli kendaraan pribadi seperti motor
ketimbang naik transportasi umum.

“Sebagian besar kini penduduk desa pun lebih memilih naik motor sendiri daripada angdes. Dan sebagian kecil lagi dipengaruhi transportasi online. Namun persentasinya tidak banyak untuk di kabupaten. Terutama yang jauh dari pusat kota,” jabarnya, kemarin (12/3).

Baca Juga:Calon Perangkat Desa Ancam Demo, Pelantikan Tidak Jelas, Camat Menjadwalkan, Tapi Dibatalkan LagiDewan Cecar PT Ayam Unggul, DLH Tak Beri Peringatan, Padahal Perusahaan Lalai Laporkan Limbah B3

Menurunnya,
minat masyarakat pun membuat para pengusaha yang berinvestasi di bidang
angkutan, menurun. Dampaknya, kini armada semakin sedikit dan tak ada
peremajaan. Jangankan bertambah, bertahan saja sangat jarang.

“Kami
sudah lakukan upaya dengan sosialisasi peningkatan layanan dan kualitas. Salah
satunya dengan berbadan hukum, jangan berbentuk perseorangan,” ungkapnya.

Namun
hingga kini, karena minat masyarakat terus menurun dan para angdes tak bisa
berbenah, jumlahnya pun semakin termakan zaman. Dari data realisasi angkutan
perdesaan di wailayah Kabupaten Cirebon sejak 2016 jumlah alokasi (quota
angdes) 2.186 armada. Namun realisasinya hanya 967. Dari data tersebut,
sebagian besarnya lebih dari 50 persen sudah tidak beroperasi.

“Semua
trayek sebenarnya sudah terlayani. Trayek Sumber-Plered (Weru) dan
Arjawinangun-Terminal Weru yang memiliki armada terbanyak,” tukasnya. (apr)

0 Komentar