Cerita Marzuki Wahid Positif Covid-19 Selama 13 Hari

marzuki-wahid
Marzuki Wahid. Foto: Facebook
0 Komentar

Setelah 13 hari itu, pasangan suami istri ini bisa tersenyum. Sambil mengingat-ingat pengalaman perdana menjadi pasien Covid-19. Awalnya, hanya Marzuki Wahid yang terinfeksi. Tak lama, disusul istri: Nurul Bahrul Ulum. Karena maksa menemani suami yang sedang diisolasi.

ADE GUSTIANA, Cirebon
KINI keduanya telah sembuh. Tinggal menjalani isolasi mandiri di rumah. Selama satu minggu. Hari ini (kemarin, red) adalah hari keempat. Setelah sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Tugurejo, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah.
Tak ada yang tahu pasti transmisi penularan itu terjadi di mana. Tapi bisa dibilang, ya pantas saja bisa tertular. Wong aktivitasnya padat. Masih di bulan yang sama, November, Marzuki memiliki kesibukan luar biasa. Menghadiri undangan sana-sini. Sedikitnya, ada tiga kota yang dikunjungi.
Seperti ke Makassar. Di Provinsi Sulawesi Selatan itu, Marzuki menghadiri lembaga kajian dan pengembangan SDM (Lakpesdam). Dilanjut menjadi tamu dalam kegiatan muhadhoroh amah. “Sekitar 4 hari saya di sana (Makassar, red),” katanya kepada Radar Cirebon saat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin.
Tak cukup sampai di situ. Tanpa lebih dulu pulang ke rumah di Cirebon, perjalanan dilanjut ke Jakarta. Di ibu kota, pria yang menamatkan jenjang magister bidang hukum Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 1996-1998 itu, berkesibukan selama 1 minggu. “Kemudian pulang ke rumah dan lanjut menghadiri nikahan di Garut,” ceritanya.
Dari Kota Dodol, Marzuki mengakhiri petualangan sebelum merasakan gejala Covid-19. Ketika melakukan zoom di rumah, pertanda itu muncul. Pertanda apalah itu, disangka penyakit biasa. “Pegal-pegal, ya namanya juga orang kelelahan,” anggapnya.
Gejala lelah itu semakin menjadi-jadi. Dan, di sini mulai muncul kecurigaan. Demam dan batuk saat itu dirasakan. Atas kesadaran, pria yang mengawali karir akademik sebagai dosen IAIN Cirebon itu melakukan rapid test.
Dilalah, hasil pengambilan sampel darah itu sesuai yang diharapkan. Ya, non reaktif. Hati sempat merasa tenang. Tapi, kok dirasa masih aneh. Rapid sudah non reaktif, tetapi gejala itu masih dirasakan. Malah semakin menjadi. Nafas Marzuki tersendat-sendat. Suhu badan di angka 39 derajat. Ditambah demam. Indra penciuman juga terganggu. Nyaris semua gejala corona yang sempat ia baca, itu dirasakan.

0 Komentar