Dilema Jam Operasional

PW2KSSS
INTERVENSI: Bupati Majalengka DR H Karna Sobahi MMPd memimpin rapat koordinasi P2WKSS, di gedung Yudha Setda Majalengka, Selasa (10/3). FOTO: IIM ABDURAHIM/RADAR MAJALENGKA
0 Komentar

Sejumlah pasar tradisional, supermarket dan minimarket di Kota Cirebon membatasi jam operasionalnya menyusul surat edaran walikota yang berkenaan dengan upaya pencegahan penyebaran corona virus disease (Covid-19).
Namun ternyata, langkah ini belum seluruhnya dipatuhi oleh para pedagang. Masih ada yang berjualan melebihi batas waktu yang ditentukan.
Di Pasar Induk Jagasatru misalnya, pukul 16.00 pedagang masih tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pembongkaran sayuran dan aktivitas jual beli seperti tak berubah, meskipun edaran tersebut telah berlaku.
Sementara di Pasar Kanoman, sekitar pukul 15.00, banyak pedagang yang telah menutup lapaknya. Khususnya yang berada di dalam pasar. Sementara pedagang yang berada di luar kios, sebagian masih tetap berjualan.
“Kalau ditutup cepat, kita dapat duit dari mana? Bongkar sayurannya jam 10.00, jam 11.00. Kalau tutupnya jam 12.00, masa cuma sejam jualannya?” kata pedagang di Pasar Induk Jagastru yang enggan disebutkan identitasnya.
Soal edaran walikota, pedagang bukannya tak mau mengikuti. Kondisinya serba dilematis. Datangnya sayuran dari petani tidak dapat diprediksi. Kadang malam, pagi, siang atau bahkan sore hari. Sementara sebagai pedagang, ia sendiri harus berkejaran dengan kondisi sayuran supaya tidak layu atau busuk. “Kalau sayuranya busuk, mana ada orang yang mau beli,” tandasnya.
Pedagang lainnya, Suryono mengaku belum dapat mematuhi aturan itu karena dirinya harus mengatur jadwal lapak dengan pedagang lain. Dia berbagi lapak masing-masing 12 jam. Pukul 22.00 sampai dengan 10.00 digunakan pedagang nasi.
Selebihnya, lapak itu digunakan dirinya mulai pukul 10.00 sampai dengan 22.00 WIB. “Berarti saya cuma jualan dua jam dong?” sebut dia.
Namun demikian, ia sendiri mengaku setuju dengan aturan tersebut. Meskipun agak sulit untuk dilakukan. “Kalau yang lain pada tutup, ya saja juga akan tutup. Sekarang kan masih banyak yang berjualan,” tukasnya.
Semetara itu, Kepala  Pasar Induk Jagasatru, Sugandi mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada para pedagang. Namun sayangnya, banyak pedagang yang bereaksi cukup keras dengan edaran walikota tersebut.
“Kalau saya sih mendukung program ini. Tapi pedagangnya banyak yang marah-marah. Pelan-pelan, mudah-mudahan mau mengikuti,” ucap Sugandi.

0 Komentar