Imbas Inflasi Dunia, Ekspor Furnitur Rotan Turun Drastis

CIREBON, RADARCIREBON.ID – Imbas inflasi dunia, ekspor furnitur rotan dari Kabupaten Cirebon ke pasar Eropa dan Amerka turun drastis.

Padahal, furnitur rotan menjadi penyumbang ekspor tertinggi di Kabupaten Cirebon. Namun, kian hari ekspor tersebut makin menurun.

Karena menurunnya inflasi ekonomi dunia. Sehingga menyebabkan daya beli pasar di Eropa dan juga Amerika berkurang.

Hal itu juga dirasakan Pengusaha Furnitur Rotan CV Pimadona Rattan, Sarip alias Frans. Frans mengaku, mengalami langsung dampak inflasi dunia.

BACA JUGA: Pengembangan UMKM Masih Lambat, Sekda Hilmy: Optimalkan Kolaborasi antar SKPD

Ekspor furnitur rotan ke beberapa negara di Eropa dan juga Amerika menurun drastis. Menurut Frans, inflasi dunia menurun disebabkan karena perang Rusia dan Ukraina.

“Dulu waktu pandemi Covid-19, permintaan ekspor malah bertambah. Sekarang, semakin menurun, setelah perang Rusia dan Ukraina. Penurunannya 75 persen. Drastis,” kata Frans.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar perang Rusia dan Ukraina berakhir dan ekonomi dunia cepat pulih. “Kalau ekonomi dunia pulih, kemungkinan permintaan ekspor pun kembali meningkat,” harapnya.

Analis Ahli Muda Perdagangan pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon, Suherman menjelaskan, hingga saat ini komoditas furnitur rotan paling berkontribusi terhadap nilai ekspor.

BACA JUGARp100 Miliar Bangun Sentra Garam Rakyat

Tercatat kerajinan rotan atau furnitur ini, telah berkontribusi sebesar 62,06 juta USD. Bila digabung dengan komoditi lainnya, nilai ekspor Kabupaten Cirebon pada 2022 menembus angka 428 juta USD.

Nilai ekspor pada 2022 menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang menembus angka 450 juta dollar Amerika.

Dijelaskannya, penyebab menurunnya nilai ekspor dari Kabupaten Cirebon ini akibat adanya penurunan jumlah permintaan dari negara tujuan.

Selain itu, faktor krisis ekonomi dunia dan konflik antara Rusia dengan Ukraina juga mempengaruhi penurunan ekspor.

“Pengaruh lainnya terjadi akibat adanya penundaan pengiriman karena banyak buyer di luar negeri yang mengeluhkan kenaikan ongkos pengiriman,” paparnya.

Terpisah, perajin rotan lainnya, Darma (52) berharap ada upaya dari pemerintah untuk membantu proses pemasaran di dalam negeri. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir ini pengiriman ke luar negeri tidak maksimal.

Komentar