Melihat Sejarah dari Guratan Karya Pewaris Batik Peranakan

Catatan: Ade Gustiana

Tahun ini usianya menginjak 80 tahun. Gouw Yang Giok masih bugar dalam memproduksi batik peranakan. Banyak cerita yang ia guratkan dalam sebuah karya batik tulis. Peradaban Negara Tirai Bambu terafirmasi dengan budaya Nusantara.

Pandemi  telah lama mengistirahatkan keseharian generasi ke-4 penerus batik peranakan itu. Dua tahunan lalu, di balik ramainya Pasar Kanoman, banyak pengrajin batik yang diperbantukan di Linas Batik Cirebon.

Letaknya di antara pertokoan Pasar Kanoman. Plang di atas toko jadi penanda di mana lokasi itu. Pejabat di Cirebon hingga tokoh di Indonesia seringkali berkunjung.

“Sampai saat ini masih ada pengrajin, tapi karena pandemi, jadi (dikerjakan, red) di rumah masing-masing,” kata Giok -biasa Gouw Yang Giok disapa-  kepada Radar Cirebon, Senin (16/1).

BACA JUGA: Pecinan Jamblang yang Kian Ditinggalkan Penduduk Asli Tionghoa

Di teras rumah belakang toko, berdiri dua lemari kayu. Di lemari-lemari itu, perempuan dari tiga anak dan dua cucu tersebut menyimpan sebagian kecil dari koleksinya. Dia tak sungkan menunjukkan koleksi batiknya. Yang telah dilipat dan disusun rapi.

Batik-batik itu sudah terpola. Dilakukan untuk mempermudah proses penjahitan. Sehingga motif batik tak terpotong/terlipat. Juga tak mengurangi keindahan dari setiap corak yang dibuat.

Butuh waktu berhari-hari. Berbulan-bulan. Hingga ganti tahun untuk anak keempat dari lima bersaudara itu menyelesaikan satu motif batik tulis. “Paling lama 18 bulan,” jelas pemilik nama Indrawati itu.

Batik tersebut dibandrol lebih dari Rp50 juta. Bagi kolektor batik, katanya, karya batik bukan soal harga. Murah dan mahal itu relatif. Selain itu juga tersedia batik harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

BACA JUGA: Tentang Pedati Gede Pekalangan, Pernah Digunakan dalam Pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Beberapa motif tertentu ia simpan. Bahkan tak boleh diperlihatkan. Saking istimewanya. Giok pun tak menjual hasil karya pilihan tersebut.

Motif batik yang ditulis kebanyakan mengisahkan peristiwa sejarah kerajaan di masa lampau. Shio hingga motif barongsai. Itu dikolaborasikan dengan motif lokal, seperti motif mega mendung.

Komentar