Tarso, 48 Tahun Mengabdi di Vihara Dewi Welas Asih

Tarso, 48 Tahun Mengabdi di Vihara Dewi Welas Asih
Produksi lilin di Vihara Dewi Welas Asih menjelang perayaan Imlek Februari 2021 mendatang. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

“Salat ya di sini (vihara, red) juga,” kata Tarso. Laki-laki yang telah mengabdikan diri lebih dari separuh usianya di Vihara Dewi Welas Asih. Sebagai pembuat lilin.

ADE GUSTIANA, Cirebon
TEPATNYA sejak 1972. Ketika itu Tarso baru berusia 8 tahun. Masih dalam bimbingan orang tua. Ya, orang tua laki-lakinya juga bekerja di vihara yang berlokasi di Jl Kantor, Kota Cirebon itu. “Sebagai tukang bersih-bersih,” kata pria domisili Tengah Tani itu, kepada Radar Cirebon.
Terus berbincang, tangan Tarso lihat merapihkan bentuk lilin menggunakan alat kecil dengan tepian tajam itu. Sambil sesekali mengumpulkan serpihan sisa-sisa lilin di satu titik hingga menggunung. Katanya, serpihan itu bisa kembali dimanfaatkan. Dilebur lalu kembali dibentuk. “Sayang kalau dibuang,” terangnya.
Tak hanya orang tua. Tapi kakek dan saudara laki-lakinya juga bekerja di vihara tersebut. Masing-masing di bidang yang berbeda. Kebetulan Tarso memiliki keahlian dalam membuat lilin berbagai ukuran itu. Kini kakek dan orang tua Tarso telah almarhum.
Dalam membuat lilin pria 56 tahun itu dibantu tiga orang lain. Di mana salah satu di antara mereka adalah anak Tarso sendiri. Dia adalah Muhammad Jefri. Anak bungsu berusia 22 tahun. “Si bungsu ini satu-satunya yang belum menikah,” ungkap Tarso yang memiliki 4 orang anak itu.
Kemudian dua lainnya adalah: Abdul Azis (25) dan Arif (27). Keduanya adalah sepupu pria yang telah memiliki tujuh orang cucu tersebut. Di lingkaran mereka Tarso adalah bos. Dalam artian, yang mengatur jalannya pekerjaan.
Meski turun-temurun, namun Tarso tak rela anak-anaknya meneruskan pekerjaan dia. Alasan Tarso sederhana. “Saya bekerja di sini cuma musiman. Kalau ada permintaan aja,” terangnya. Bisa dipastikan regenerasi keluarga Tarso bekerja di vihara tak lagi diteruskan.
Musiman yang dimaksud adalah pekerjaan membuat lilin hanya dalam waktu tertentu. Artinya hanya dibuat ketika mendekati hari besar Tionghoa. Untuk periode sekarang, ia memenuhi untuk kebutuhan Imlek pada Februari 2021 akan datang. Sudah sekitar tiga Minggu Tarso melayani orderan tersebut.
Hingga sekarang ada 300 pasang permintaan membuat lilin. Berarti 600 buah lilin. Berbagai ukuran. Paling kecil sekitar 60 cm. Sementara paling besar 150 cm. Rentang harganya pun variatif. Mulai dari Rp300 ribu hingga Rp21 juta.

0 Komentar