Warga Diminta Waspadai Bencana Hidrometeorologi

RADARCIREBON.ID –  Ancaman bencana hidrometeorologi diprediksikan rawan terjadi di awal tahun 2023. Merespons itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, mengeluarkan surat imbauan untuk masyarakat agar mewaspadai terhadap bencana hidrometeorologi ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan, pihaknya mengimbau masyarakat agar senantiasa siap siaga terhadap ancaman bencana hidrometeorologi yang diprediksikan terjadi di awal tahun ini.

“Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), prakiraan puncak musim hujan terjadi antara bulan Desember 2022 sampai Februari 2023,” kata Indra Bayu Permana.

Pihaknya mengimbau masyarakat agar meningkatkan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, serta mengantisipasi dan meminimalisir risiko bencana di musim penghujan ini. Bencana hidrometeorologi yang rawan terjadi yaitu bencana tanah longsor/pergerakan tanah dan banjir, terutama pada daerah kawasan rawan bencana.

BACA JUGA: Longsor di Desa Cimenga dan Garajati Kabupaten Kuningan, Jalan Desa Putus

“Wilayah Kabupaten Kuningan sendiri memiliki potensi bencana tanah longsor/gerakan tanah cukup tinggi di Jawa Barat. Di samping itu Kuningan juga memiliki beberapa sungai yang memungkinkan berakibat bencana banjir,” ucap Indra.

Indra mengimbau semua pihak untuk melakukan langkah-langkah antisipasi yang dianggap perlu seperti mitigasi dan kesiapsiagaan.

“Beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menggencarkan kegiatan pembersihan lingkungan baik saluran drainase pemukiman, aliran sungai seperti bersih-bersih sungai dari sampah yang menghalangi gerak air dari hulu ke hilir,” paparnya.

Langkah lainnya adalah dengan memangkas dahan, cabang atau pohon yang rawan tumbang. Serta apabila melihat ada retakan pada jalan, tanah maupun tebing agar segera melakukan upaya penutupan sebelum berisiko terjadi tanah longsor,” terangnya.

Kepada masyarakat, Indra mengimbau juga agar secepatnya membentuk posko kesiapsiagaan, di desa rawan bencana dan melakukan pemantauan secara cermat. dan berkelanjutan untuk mengetahui situasi terkini (real time) terhadap perkembangan informasi peringatan dini cuaca musim penghujan.

“Lalu melakukan pemetaan maping serta deteksi dini terhadap potensi ancaman, risiko dan kerentanan bencana untuk menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul paling aman apabila situasi tanggap darurat,” imbuhnya.

Komentar